
Agus berada pada jarak 500 meter dariku. Tapi aku tidak memanggilnya. Aku enggan berteriak keras. Rasanya tidak pantas seorang wanita yang dipanggil ibu guru oleh penduduk di sini berteriak sekeras itu hanya untuk memanggil seorang muridnya.
Agus terus berjalan tanpa menoleh. Terkadang ia berlari dan melompat kecil ketika bertemu dengan seekor kinjeng yang melintas di atas kepalanya. Terkadang ia merentangkan kedua tangannya ketika melangkah di pematang sawah yang sempit dan licin. Dan aku, yang belum terlalu terbiasa berjalan di pematang yang sama dengan yang ia lewati, tentu saja tertinggal semakin jauh.
Agus adalah salah satu muridku. Ia anak seorang petani buruh, petani yang bekerja mengolah sawah dan padi milik orang lain, dan ia mendapat upah setiap hari jumat, serta bonus setiap kali panen. Bila panen melimpah, melimpah pula bonusnya. Bila panen gagal maka bonus pun terancam nihil. Namun seberapa pun besarnya panen, tetap saja bonus itu habis juga untuk membayar hutang dan membeli beberapa helai pakaian di pasar serta sedikit persediaan makanan.
Aku mengajar di sebuah sekolah kecil di desa ini. Satu-satunya sekolah dengan 28 murid dari kelas 1 sampai kelas 6. Dengan 4 ruang sama besar dan sama rusaknya. Rasanya aku tidak perlu mejelaskan bagaimana kodisi ruang kelas di sini, yang jelas kondisinya tidak berbeda jauh dengan sekolah-sekolah bergedung sekarat yang sering disiarkan di televisi. Aku mengajar hampir semua mata pelajaran, membantu seorang Bapak kepala sekolah yang sudah lebih dari 17 tahun mengajar di sini. Karena aku berasal dari jurusan bahasa indonesia, maka aku berinisiatif untuk memberi pelajaran tambahan “membaca dan menulis” bagi beberapa anak yang berminat. Yah, semacam ekstrakulikuler. Tapi tidak banyak yang mengikutinya, hanya 11 anak. Karena kebanyakan yang lain lebih memilih langsung pulang dan bermain atau membantu pekerjaan orang tua mereka dari pada menambah setengah jam sepulang sekolah dua minggu sekali untuk mengikuti pelajaran tambahan dariku.
Bukannya murid-muridku kurang trampil membaca. Tidak, justru anak-anak yang ada di kelas tambahan ini adalah anak yang memiliki kelebihan dalam kemampuan membaca dan menulis dibanding yang lain. Aku mendekati beberapa anak yang kuanggap cukup potensial, kuajak mereka mengikuti program tambahan ini dengan iming-iming bisa menulis lebih baik dari yang lain. Dan kalau sudah bisa menulis lebih baik, maka mereka bisa berpeluang untuk menjadi seorang penulis terkenal. Dengan menyebutkan nama-nama penulis besar dan memperkenalkan beberapa judul buku mereka yang dikenal di Indonesia bahkan dunia sebagai rayuannya. Dan voila! Hasilnya 11 anak tertarik, termasuk Agus. Meski pun aku tahu angka ini bisa berubah kapan saja. Yang lebih besar kemungkinannya adalah angka ini menyusut seiring bertambahnya waktu. Tapi tidak masalah buatku.
Aku memperkenalkan lebih banyak jenis buku pada mereka. Novel, komik, cergam, puisi, apa saja. Kami membacanya bersama setiap pertemuan, dan mendiskusikannya secara sederhana. Dan buku itu boleh dipinjam setelah pertemuan selesai. Sebagai tugas sebelum pulang, aku selalu menyuruh mereka untuk menulis sesuatu. Apa saja. Meski pun itu hanya satu kalimat, bahkan satu kata sekali pun. Apa saja, yang sedang terlintas di benak mereka.
Agus adalah anak yang sangat pendiam, tidak akan berbicara kalau tidak ditanya. Tapi aku tahu dia anak yang berbakat. Setiap pelajaran bahasa indonesia dan ada tugas membuat kalimat, dia sering membuat kalimat yang berbeda dari teman-temannya. Memang bukan kalimat kompleks dan indah seperti yang biasa dibuat anak-anak seusia mereka di sekolah kota. Tapi kalimat yang membawa ide yang cukup istimewa. Seperti ketika salah satu soal yang tertera di ulangan umum adalah membuat kalimat dengan kata ‘bendera’. Sementara anak lain membuat kalimat tentang upacara bendera, sebuah ide klasik yang turun temurun dari tahun ke tahun, sepertinya hanya perkara upacara bendera saja yang identik dengan kata bendera. Tapi agus membuat kalimat, “Benderaku sobek dan tiangnya patah karena angin kemarin sore.” Betapa kalimat indah yang dibuat dengan ide sederhana dari pikiran sederhana seorang anak desa.
Sepulangnya mereka aku membaca tiap-tiap tulisan yang dibuat muridku. Ada yang berhasil membuat satu kalimat, satu paragraf, bahkan ada yang sudah berhasil membuat sebuah karangan lengkap tiga paragraf. Tapi perhatianku tertumbuk pada satu kertas yang hanya bertuliskan satu kata: “SEX”. Kubaca namanya: Agus. Mengapa ia menulis kata ini? Yah, mungkin ini sebuah kata yang baru untuknya dan cukup menarik perhatiannya. Maka tidak terlalu kupermasalahkan lagi.
Tapi akhirnya ini menjadi masalah setelah kejadian seperti ini terjadi hingga tiga kali. Dan aku merasa cukup terganggu. Apa maksudnya? Apa yang ada di pikiran Agus kala menulis kata ini? Apakah selama lebih dari seminggu ini hanya satu kata saja yang terlintas di pikirannya? Mengapa kata-kata ini begitu menarik perhatiannya dan melekat di benaknya? Aku khawatir jangan-jangan ia menyimpan sebuah pesan pada tulisannya. Bahkan pikiran bahwa dia mendapat perlakuan yang tidak sepantasnya sempat terlintas di benakku. Tapi mengapa ia menulis dengan huruf X, tulisan dalam bahasa inggris? Apakah sebenarnya dia ingin bertanya padaku tapi terlalu malu untuk bertanya langsung?
Maka aku pun akhirnya berjalan di pematang sawah ini, mengikuti Agus yang berada pada jarak 500 meter di depanku. Awalnya aku bermaksud hendak mengajak Agus mengobrol, bertanya langsung padanya mengapa ia selalu menulis kata itu di kertas tugas. Sayangnya aku terlambat beberapa menit, Agus sudah pergi. Ibunya bilang ia ‘nyebrang’, begitu cara mereka menyebut daerah yang berada di seberang jalan. Di tepi desa ini memang dilalui sebuah jalan raya antar propinsi. Dan di seberang jalan raya itu masih terdapat banyak sawah dan ladang penduduk. Sejak hampir dua puluh tahun yang lalu desa ini dibelah oleh sebuah jalan raya penghubung antar kota. Dan sejak saat itu ratusan mobil dan truk besar melintas setiap harinya, pelancong dan pemudik melaluinya setiap liburan.
Maka aku pun menyusulnya, berharap bisa mengobrol dengannya mungkin di gubug di tengah sawah garapan ayahnya, atau di mana saja tempat nyaman yang bisa kami temukan. Aku terus mengikutinya, sambil berharap dia menoleh dan melihatku, lalu menghentikan langkahnya. Agar aku tidak perlu berjalan terlalu jauh. Tapi aku terus berjalan dan berjalan, mengikutinya dari jarak 500 meter. Terkadang semakin dekat ketika agus berhenti sejenak untuk mengambil rumput panjang di tepi kakinya, terkadang semakin jauh ketika aku harus melintasi pematang licin seperti sekarang. Masalahnya adalah aku tidak tahu tepatnya di mana sawah garapan Bapak Agus. Kalau jarak kami terlalu jauh aku bisa kehilangan dia juga kesempatan untuk bertanya padanya.
Hingga akhirnya agus sampai di tepi jalan raya. Aku berharap kendaraan yang melintas akan menghentikannya sejenak sebelum menyebrang. Tapi terlambat. Dia berlari kecil menyebrang jalan dan rasa putus asa hampir sampai di kerongkonganku. Namun tiba-tiba sesampai di seberang dia berhenti. Dia berdiri di dekat sebuah baliho besar, berdiri tegak sambil memandangnya lekat. Cukup lama, hingga aku bisa mendekat sampai jarak kami tinggal 100 meter lagi. Tepat ketika aku hendak berteriak memanggilnya, dia kembali berjalan. Tidak, tidak berjalan. Dia berlari. Aku pun berlari mengejarnya. Tapi tepat ketika aku tiba di tepi jalan, kendaraan-kendaraan melaju cepat dan rapat. Aku kehilangan dia lagi. Lalu aku melihat benda itu, baliho besar itu, baliho yang tadi sangat menarik perhatian Agus hingga dia rela berhenti beberapa menit untuk memandangnya. Itu sebuah baliho iklan. Dan di situ tertulis:
SEX
NOW WE HAVE YOUR ATTENTION
EAT AT US
Di bawahnya tertulis nama dan alamat sebuah restoran yang akan dilintasi beberapa ratus meter dari sini.
Ya Allah, aku baru mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Tulisan ini begitu menarik perhatian Agus, bahkan mungkin membuatnya penasaran setengah mati dengan artinya yang tidak dia mengerti. Ia tidak bisa membaca kalimat panjang dalam bahasa inggris itu, apalagi menuliskannya. Ia hanya bisa mengingat satu kata yang tertulis paling atas dan paling besar. Namun artinya pun mungkin dia tidak tahu. Maka rasa ingin tahunya membawa satu kata itu terus di dalam otaknya.
Akhirnya aku memutuskan untuk tidak mengikutinya lagi, lagipula dia sudah terlalu jauh. Maka aku berhenti di sini. Aku duduk di bawah sebuah pohon kecil yang cukup rindang dan menunggunya hingga ia datang. Sekitar setengah jam kemudian dia muncul, tampak terkejut melihatku duduk sendiri di situ. Tapi dia pun mendekat setelah aku tersenyum dan melambai kepadanya. Lalu kami duduk bersama, membicarakan banyak hal. Bukan, bukan tentang SEX, tapi tentang Agus, aku dan semua hal yang ada di sekitar kami.
*Terinspirasi dari sebuah iklan di Amerika Serikat. Saya lupa tepatnya bagaimana bunyi klan yang asli dan apa nama restorannya. Sorry ya... :)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar