17 Agu 2008

LITTLE SUSSIE


“Susi mati!”

“Susi mati?”

“Susi mati pak RT.”

Berita kematian sebenarnya bukanlah berita yang asing, karena hampir setiap hari di desa itu berita kematian berkumandang mengabarkan kehilangan yang dialami seorang istri, atau anak, atau bahkan sebuah keluarga. Namun berita kematian kali ini berbeda. “Susi mati.” Seorang anak usia 10 tahun, mungkin terlalu muda untuk ditebak ajalnya. Dan kematiannya dirasakannya seorang diri, tanpa ayah, tanpa ibu, bahkan saudara-saudaranya.

Dia tinggal sebatang kara di sebuah rumah mungil yang dindingnya berwarna coklat lumpur. Warna coklat itu bukan karena selera pemiliknya, tapi karena setiap tahun rumah-rumah di desa ini terendam banjir yang membawa lumpur ke dalam rumah-rumah mereka. Tumpukan pakaian di sudut kasur membuat rumah ini semakin apek. Rasanya pasti berat untuk anak seusia Susi membersihkan dan membereskan seluruh bagian rumah ini seorang diri.

Dan di sanalah jenazah mungil itu tergeletak. Di lantai salah satu ruangnya yang kusam. Darah yang tumpah dari kepalanya tergenang di dekat guling yang ia peluk erat di dadanya. Rambutnya yang ikal sebahu kini menggumpal lengket oleh cairan merah itu. Ia hanya memakai celana selutut dan kaus dalam, pasti malam sebelumnya dia merasa sangat kedinginan tidur dengan pakaian seadanya.

“Di sana pak RT,” tunjuk seorang warga ke dalam rumah. Orang yang dipanggil pak RT mendekati jenazah mungil itu. Wajahnya tirus, kulitnya pucat kuning tanda kurang gizi. Namun wajah beku itu terlihat seperti menyimpan kedamaian yang tidak dimengerti oleh mereka, seakan dia baru saja mendarat kembali dari pengalaman terbang bersama peri. Di sisinya seorang pria tua bersimpuh, matanya sembab sisa menangis.

“Kapan, mbah Kompas?” tanya pak RT. Orang tua yang dipanggil mbah Kompas itu menggeleng.

“Yang nemu njenengan?” kali ini mbah Kompas mengangguk.

“Kapan? Ayo mbah, njenengan harus cerita sama saya!”

“Tadi saya mau nganter sarapan buat susi,” ia mengendikkan kepalanya ke arah meja. Di atasnya tergeletak sebuah mangkuk yang masih mengepulkan asap hangat dan menguarkan bau indomie. “Saya nemu sudah kayak gini,” kali ini ia kembali terisak. Pak RT menepuk bahunya dengan perlahan.

Mbah Kompas adalah orang terdekat Susi. Ia adalah pedagang koran, ia mendirikan sebuah kios kecil tepat di sisi rumah Susi. Itulah yang membuat dua manusia berjarak usia itu menjadi begitu dekat. Meski pun dia bukan keluarganya, tapi Mbah Kompas merawatnya seperti cucu sendiri. Setelah kematian ibunya beberapa bulan lalu karena serangan TBC, Susi sebatang kara. Ayahnya sudah pergi meninggalkan mereka sejak Susi masih terlalu kecil untuk mengingat wajah Ayahnya. Setiap waktunya makan, Mbah Kompas selalu mengantarkan makanan ala kadarnya untuk Susi, karena ia sendiri tidaklah berkecukupan.

Sebenarnya tidak ada seorang pun yang tahu nama asli Mbah Kompas. Ia dipanggil demikian hanya karena ia pengecer koran, dan panggilan itu tentu saja diambil dari salah satu nama koran yang ia dagangkan. Dia pernah mengaku berasal dari Boyolali, tapi tetap saja tidak ada seorang pun tahu apakah itu benar atau tidak. Namun beberapa orang menduga ia sebenarnya berasal dari daerah timur. Tampak dari kulitnya yang lebih hitam dari warna kulit penduduk asli desa itu, dan rambutnya yang lebat keriting.

“Sudah panggil polisi?” tanya pak RT kali ini pada seorang pria yang berdiri di belakangnya.

“Belum, pak.”

“Cepat telpon!”

Dan pria itu pun segera keluar. Sesaat kemudian terdengar gumaman di antara mereka untuk segera menelepon, pakai telepon si ini, pakai telepon di situ, siapa yang harus berbicara pada polisi, dan apa yang harus dikatakan.

Pak RT mengajak mbah Kompas dan semua orang di ruangan itu keluar, setelah mereka menutup jenazah Susi dengan selimutnya yang tipis.

“Nggak dipindah ke kasur, Pak?” tanya seorang warga.

“Jangan. Biar Polisi lihat dulu.”

Setengah jam kemudian Polisi datang bersama mobil jenazah. Beberapa petugas forensik turun dan memeriksa jenazah Susi. Tidak ada seorang pun yang boleh mendekat. Namun beberapa orang tetap berusaha melongokkan kepala mereka ke dalam pintu, atau mengintip melalui jendela. Sementara polisi menanyai beberapa orang, termasuk mbah Kompas.

“Sepertinya kecelakaan,” ujar seorang petugas forensik pada Polisi. “Mungkin dia terpeleset dan kepalanya terbentur meja. Tapi untuk memastikan dia bisa kami bawa.”

“Jangan!” sergah mbah Kompas. “Jangan dibawa. Biar kami saja yang merawat, biar kami kuburkan baik-baik. Jangan diotopsi!”

Polisi mendebatnya, menguraikan panjang lebar tentang kemungkinan pembunuhan dan pemecahan kasus. Namun mbah Kompas tetap menggelengkan kepala sambil menunduk dalam. Air matanya kembali tumpah.

“Kalau misalnya kasus ini dianggap selesai saja gimana pak polisi?” tanya pak RT.

“Sebenarnya yang berhak memutuskan apakah kasus ini akan dibawa untuk diselidiki atau tidak adalah keluarganya. Kalau keluarga mengikhlaskan ya kami tidak bisa berbuat apa-apa. Tapi anak ini tidak punya keluarga kan?”

“Anggaplah kami ini keluarganya, terutama Mbah Kompas. Mbah kompas yang paling dekat dengan susi. Kalau mbah kompas tidak rela susi di... otopsi, bisa dibatalkan kan pak polisi?”

“Ya sudah kalau itu maunya. Tapi kami hanya minta data-data orang-orang yang terkait dengan kasus ini.”

Pak RT mengangguk mengerti.

“Mulai dari mbah ini,” ujar polisi sambil mengeluarkan kertas catatannya. “Namanya siapa, mbah?”

“Mbah Kompas,” ujarnya lirih.

“Maksud saya nama asli, jangan nama panggilan atau nama palsu. Siapa nama aslinya?”

“Michael,” ujarnya tetap lirih.

“Siapa?”

“Michael,” kali ini lebih keras. Polisi itu memandang mbah Kompas dengan pandangan sangsi.

“Nama asli saya memang Michael,” ujar mbah Kompas lagi dengan pandangan mantap menatap polisi itu. Polisi itu tak berkata apa-apa, ia hanya menorehkan penanya di atas kertas.

*inspired by Michael Jackson's song

BEN


“Halo, Michael,” itu Ben, Benyamin tepatnya. Sahabatku, satu-satunya. Tidak ada anak lain yang mau mengajakku berbicara. Cuma Ben.

“Nama gue benyamin,” begitu dulu dia memperkenalkan dirinya padaku.

“Kata Babeh gue, ini namanya pahlawan. Babeh pengen gue jadi pahlawan kayak yang punya nama,” dia cuma tersenyum getir. Entah kenapa. Mungkin dia merasa ayahnya memangkukan beban yang terlalu berat pada nama itu, dan harapannya.

“Capek gue, Mike. Tambah hari tambah sepi. Orang jaman sekarang sukanya pake sepatu kain, sepatu olah raga tuh. Apaan, kets? Ya itu deh pokoknya. Nah orang yang pake sepatu kulit udah ga pada nyemirin lagi. Heh, pusing deh gue!”

Begitu Ben. Seharian berkeliling menawarkan semir sepatunya, sorenya ia pun melepas penat di dekatku. Bercerita, berceloteh, bercanda, apa saja. Sambil dengan cekatan menyemir sepatuku. Hanya sepatuku. Tidak sepatu ibuku dan tidak juga sepatu ayahku. Meski pun mereka berdua selalu berdiri di sampingku. Tapi hanya sepatuku yang digosoknya, dengan kain yang lusuh dan hitam. Semir berbagai warna - hitam, coklat, putih - yang lengket di kain itu, meluncur licin pada sepatuku. Hasilnya, sepatuku berkilat terang. Berbeda dengan sepatu ayah dan ibuku yang kusam. Aku juga tidak tahu mengapa Ben hanya menggosok sepatuku, tidak sepatu ibuku dan tidak juga sepatu ayahku. Padahal aku pun tidak pernah memintanya.

“Eh, itu Mister Michael,” Ben mengedipkan sebelah matanya padaku dan berlalu. Tersenyum riang dia mendekati Mister Michael yang asli. Dia adalah seorang ekspatriat dari Amerika yang sudah berpuluh tahun hidup di Indonesia. Dia sudah seperti orang Indonesia asli, bahkan mungkin lebih Indonesia daripada orang Indonesia sendiri.

“Halo Mister Michael. Semir ga nih?” tanya Ben padanya. Dan Mister Michael menyerahkan sepasang sepatunya pada Ben, setelah menerima sandal jepit sebagai pengganti sementara. Mister michael menjadi satu-satunya pelanggan setia Ben. Hampir setiap hari ia menyerahkan sepatunya pada Ben, meski pun seringkali sepatunya sudah cukup licin untuk disemir lagi. Dan sejak saat itu ben memanggilku Michael, seperti nama pelanggan setianya itu.

Ben memang baru 10 tahun, seumur denganku. Tapi dia sudah harus bekerja sejak 3 tahun yang lalu, yang ketika itu bahkan membaca pun dia masih belum terlalu lancar. Dia memang bukan anak yang terlalu pintar, bahkan agak terbelakang di kelasnya. Dan bibirnya yang sumbing menjadi sumber paling ampuh bagi anak-anak lain untuk mengucilkannya. Dia sudah kenyang dengan pengalaman diasingkan, dicemooh, ditertawakan karena suaranya yang terdengar agak sengau. Bisa dibilang mungkin dia salah satu anak paling sial di kota ini. Setelah mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan di sekolahnya, prestasinya yang seperti batu hitam besar tenggelam di dasar sungai, dan hari terakhirnya dia menangis sesenggukan di teras sekolah, sambil memeluk tas kumal berisi satu buku tulis tipis, karena dia tahu esok tak bisa kembali ke sekolah itu lagi.

Ayahnya tak pernah memaksa Ben untuk bekerja seperti ini, apalagi ibunya. Ayahnya merasa sudah cukup dengan penghasilannya sebagai kernet bis kota, dan tugas Ben adalah membantu ibu di rumah. Tapi Ben tidak mau. Dia ingin melakukan sesuatu, lebih dari menyapu lantai dan menimba air untuk mandi. Tapi pekerjaan sederhana yang menghasilkan uang untuk ibunya.

Dan dia pun berakhir di jalanan. Sebagai penyemir sepatu. Dengan penghasilan hanya beberapa ribu per hari. Dia pun harus melatih kemampuan berlarinya dan pengenalan pada gang-gang kelinci di sekitar sini. Karena terkadang kemampuan itu akan diuji, ketika TRANTIB mengejar siapa saja anak jalanan dan gelandangan yang terlihat.

Dan itu dia di sana, anak yang penuh kesialan itu. Dia sedang asyik bercengkrama dengan seorang pria Amerika sembari menyikat sepatunya. Ben pernah menyebut Mister Michael adalah manusia favoritnya. Orang paling ramah dan baik hati yang pernah dia temui. “Herannya kok Mister Michael kagak kawin ya? Kalo babeh gue mati, gue mau mak gue kawin sama dia. Dia jadi babeh gue, Babeh Michael,” begitu celotehnya suatu ketika.

Tapi kali ini perasaanku tidak enak, ketika sebuah ekskafator berdenging dan mendekatiku. Seorang petugas mengarahkan supirnya untuk semakin mendekat, hingga kabel derek di belakang ekskafator itu bisa mencapai aku dan ayah ibuku. Gusarku semakin dalam, ketika kabel itu dililitkan di sekeliling tubuh kami. Ben!. Ben! Aku ingin berteriak memanggilnya, meminta bantuannya. Tapi aku tidak bisa. Tidak ada suara yang keluar dari mulutku. Ben! Aku hanya berharap dia menghentikan candanya dengan Mister Michael dan menoleh sejenak. Oh Tuhan, tolong panggilkan Ben, pintaku dalam hati.

“Lho lho, pak! Michael mo dibawa ke mana?” ah, syukurlah Ben melihat. Dan dia berlari dengan kegusaran yang sama dengan yang kurasakan.

“Pak, jangan dipindahin Michael,” Ben memohon pada petugas itu.

“Michael apaan? sok tahu lu anak kecil. Ni patung mo dipindah ke taman Suropati. Sayang disimpan di sini. Dekat terminal, dekat stasiun, jorok. Mending ditaruh di taman, biar cakepnya keliatan ni patung,” begitu kata sang petugas.

“Pak, jangan pak, di sini aja pak,” Ben menghiba, suara sengaunya semakin menjadi ketika matanya mulai berkaca-kaca. Aku tahu, hanya aku temannya, dan hanya dia temanku. Dan kami pasti akan merasa sangat kehilangan bila dipisahkan. Tapi Ben hanya bisa memohon, dan bibirnya mulai bergetar. Sementara aku tak punya daya untuk menolak, apalagi memberontak, ketika kabel derek itu diputar dan tubuhku terangkat semakin tinggi dan berdebam di atas truk. Perlahan wajah sedih itu menjadi mengabur dan jauh. Tapi suara tersedu sayup masih bisa kudengar, “Michael... jangan dibawa pergi...”



*inspired by Michael Jackson's song