17 Agu 2008

LITTLE SUSSIE


“Susi mati!”

“Susi mati?”

“Susi mati pak RT.”

Berita kematian sebenarnya bukanlah berita yang asing, karena hampir setiap hari di desa itu berita kematian berkumandang mengabarkan kehilangan yang dialami seorang istri, atau anak, atau bahkan sebuah keluarga. Namun berita kematian kali ini berbeda. “Susi mati.” Seorang anak usia 10 tahun, mungkin terlalu muda untuk ditebak ajalnya. Dan kematiannya dirasakannya seorang diri, tanpa ayah, tanpa ibu, bahkan saudara-saudaranya.

Dia tinggal sebatang kara di sebuah rumah mungil yang dindingnya berwarna coklat lumpur. Warna coklat itu bukan karena selera pemiliknya, tapi karena setiap tahun rumah-rumah di desa ini terendam banjir yang membawa lumpur ke dalam rumah-rumah mereka. Tumpukan pakaian di sudut kasur membuat rumah ini semakin apek. Rasanya pasti berat untuk anak seusia Susi membersihkan dan membereskan seluruh bagian rumah ini seorang diri.

Dan di sanalah jenazah mungil itu tergeletak. Di lantai salah satu ruangnya yang kusam. Darah yang tumpah dari kepalanya tergenang di dekat guling yang ia peluk erat di dadanya. Rambutnya yang ikal sebahu kini menggumpal lengket oleh cairan merah itu. Ia hanya memakai celana selutut dan kaus dalam, pasti malam sebelumnya dia merasa sangat kedinginan tidur dengan pakaian seadanya.

“Di sana pak RT,” tunjuk seorang warga ke dalam rumah. Orang yang dipanggil pak RT mendekati jenazah mungil itu. Wajahnya tirus, kulitnya pucat kuning tanda kurang gizi. Namun wajah beku itu terlihat seperti menyimpan kedamaian yang tidak dimengerti oleh mereka, seakan dia baru saja mendarat kembali dari pengalaman terbang bersama peri. Di sisinya seorang pria tua bersimpuh, matanya sembab sisa menangis.

“Kapan, mbah Kompas?” tanya pak RT. Orang tua yang dipanggil mbah Kompas itu menggeleng.

“Yang nemu njenengan?” kali ini mbah Kompas mengangguk.

“Kapan? Ayo mbah, njenengan harus cerita sama saya!”

“Tadi saya mau nganter sarapan buat susi,” ia mengendikkan kepalanya ke arah meja. Di atasnya tergeletak sebuah mangkuk yang masih mengepulkan asap hangat dan menguarkan bau indomie. “Saya nemu sudah kayak gini,” kali ini ia kembali terisak. Pak RT menepuk bahunya dengan perlahan.

Mbah Kompas adalah orang terdekat Susi. Ia adalah pedagang koran, ia mendirikan sebuah kios kecil tepat di sisi rumah Susi. Itulah yang membuat dua manusia berjarak usia itu menjadi begitu dekat. Meski pun dia bukan keluarganya, tapi Mbah Kompas merawatnya seperti cucu sendiri. Setelah kematian ibunya beberapa bulan lalu karena serangan TBC, Susi sebatang kara. Ayahnya sudah pergi meninggalkan mereka sejak Susi masih terlalu kecil untuk mengingat wajah Ayahnya. Setiap waktunya makan, Mbah Kompas selalu mengantarkan makanan ala kadarnya untuk Susi, karena ia sendiri tidaklah berkecukupan.

Sebenarnya tidak ada seorang pun yang tahu nama asli Mbah Kompas. Ia dipanggil demikian hanya karena ia pengecer koran, dan panggilan itu tentu saja diambil dari salah satu nama koran yang ia dagangkan. Dia pernah mengaku berasal dari Boyolali, tapi tetap saja tidak ada seorang pun tahu apakah itu benar atau tidak. Namun beberapa orang menduga ia sebenarnya berasal dari daerah timur. Tampak dari kulitnya yang lebih hitam dari warna kulit penduduk asli desa itu, dan rambutnya yang lebat keriting.

“Sudah panggil polisi?” tanya pak RT kali ini pada seorang pria yang berdiri di belakangnya.

“Belum, pak.”

“Cepat telpon!”

Dan pria itu pun segera keluar. Sesaat kemudian terdengar gumaman di antara mereka untuk segera menelepon, pakai telepon si ini, pakai telepon di situ, siapa yang harus berbicara pada polisi, dan apa yang harus dikatakan.

Pak RT mengajak mbah Kompas dan semua orang di ruangan itu keluar, setelah mereka menutup jenazah Susi dengan selimutnya yang tipis.

“Nggak dipindah ke kasur, Pak?” tanya seorang warga.

“Jangan. Biar Polisi lihat dulu.”

Setengah jam kemudian Polisi datang bersama mobil jenazah. Beberapa petugas forensik turun dan memeriksa jenazah Susi. Tidak ada seorang pun yang boleh mendekat. Namun beberapa orang tetap berusaha melongokkan kepala mereka ke dalam pintu, atau mengintip melalui jendela. Sementara polisi menanyai beberapa orang, termasuk mbah Kompas.

“Sepertinya kecelakaan,” ujar seorang petugas forensik pada Polisi. “Mungkin dia terpeleset dan kepalanya terbentur meja. Tapi untuk memastikan dia bisa kami bawa.”

“Jangan!” sergah mbah Kompas. “Jangan dibawa. Biar kami saja yang merawat, biar kami kuburkan baik-baik. Jangan diotopsi!”

Polisi mendebatnya, menguraikan panjang lebar tentang kemungkinan pembunuhan dan pemecahan kasus. Namun mbah Kompas tetap menggelengkan kepala sambil menunduk dalam. Air matanya kembali tumpah.

“Kalau misalnya kasus ini dianggap selesai saja gimana pak polisi?” tanya pak RT.

“Sebenarnya yang berhak memutuskan apakah kasus ini akan dibawa untuk diselidiki atau tidak adalah keluarganya. Kalau keluarga mengikhlaskan ya kami tidak bisa berbuat apa-apa. Tapi anak ini tidak punya keluarga kan?”

“Anggaplah kami ini keluarganya, terutama Mbah Kompas. Mbah kompas yang paling dekat dengan susi. Kalau mbah kompas tidak rela susi di... otopsi, bisa dibatalkan kan pak polisi?”

“Ya sudah kalau itu maunya. Tapi kami hanya minta data-data orang-orang yang terkait dengan kasus ini.”

Pak RT mengangguk mengerti.

“Mulai dari mbah ini,” ujar polisi sambil mengeluarkan kertas catatannya. “Namanya siapa, mbah?”

“Mbah Kompas,” ujarnya lirih.

“Maksud saya nama asli, jangan nama panggilan atau nama palsu. Siapa nama aslinya?”

“Michael,” ujarnya tetap lirih.

“Siapa?”

“Michael,” kali ini lebih keras. Polisi itu memandang mbah Kompas dengan pandangan sangsi.

“Nama asli saya memang Michael,” ujar mbah Kompas lagi dengan pandangan mantap menatap polisi itu. Polisi itu tak berkata apa-apa, ia hanya menorehkan penanya di atas kertas.

*inspired by Michael Jackson's song

BEN


“Halo, Michael,” itu Ben, Benyamin tepatnya. Sahabatku, satu-satunya. Tidak ada anak lain yang mau mengajakku berbicara. Cuma Ben.

“Nama gue benyamin,” begitu dulu dia memperkenalkan dirinya padaku.

“Kata Babeh gue, ini namanya pahlawan. Babeh pengen gue jadi pahlawan kayak yang punya nama,” dia cuma tersenyum getir. Entah kenapa. Mungkin dia merasa ayahnya memangkukan beban yang terlalu berat pada nama itu, dan harapannya.

“Capek gue, Mike. Tambah hari tambah sepi. Orang jaman sekarang sukanya pake sepatu kain, sepatu olah raga tuh. Apaan, kets? Ya itu deh pokoknya. Nah orang yang pake sepatu kulit udah ga pada nyemirin lagi. Heh, pusing deh gue!”

Begitu Ben. Seharian berkeliling menawarkan semir sepatunya, sorenya ia pun melepas penat di dekatku. Bercerita, berceloteh, bercanda, apa saja. Sambil dengan cekatan menyemir sepatuku. Hanya sepatuku. Tidak sepatu ibuku dan tidak juga sepatu ayahku. Meski pun mereka berdua selalu berdiri di sampingku. Tapi hanya sepatuku yang digosoknya, dengan kain yang lusuh dan hitam. Semir berbagai warna - hitam, coklat, putih - yang lengket di kain itu, meluncur licin pada sepatuku. Hasilnya, sepatuku berkilat terang. Berbeda dengan sepatu ayah dan ibuku yang kusam. Aku juga tidak tahu mengapa Ben hanya menggosok sepatuku, tidak sepatu ibuku dan tidak juga sepatu ayahku. Padahal aku pun tidak pernah memintanya.

“Eh, itu Mister Michael,” Ben mengedipkan sebelah matanya padaku dan berlalu. Tersenyum riang dia mendekati Mister Michael yang asli. Dia adalah seorang ekspatriat dari Amerika yang sudah berpuluh tahun hidup di Indonesia. Dia sudah seperti orang Indonesia asli, bahkan mungkin lebih Indonesia daripada orang Indonesia sendiri.

“Halo Mister Michael. Semir ga nih?” tanya Ben padanya. Dan Mister Michael menyerahkan sepasang sepatunya pada Ben, setelah menerima sandal jepit sebagai pengganti sementara. Mister michael menjadi satu-satunya pelanggan setia Ben. Hampir setiap hari ia menyerahkan sepatunya pada Ben, meski pun seringkali sepatunya sudah cukup licin untuk disemir lagi. Dan sejak saat itu ben memanggilku Michael, seperti nama pelanggan setianya itu.

Ben memang baru 10 tahun, seumur denganku. Tapi dia sudah harus bekerja sejak 3 tahun yang lalu, yang ketika itu bahkan membaca pun dia masih belum terlalu lancar. Dia memang bukan anak yang terlalu pintar, bahkan agak terbelakang di kelasnya. Dan bibirnya yang sumbing menjadi sumber paling ampuh bagi anak-anak lain untuk mengucilkannya. Dia sudah kenyang dengan pengalaman diasingkan, dicemooh, ditertawakan karena suaranya yang terdengar agak sengau. Bisa dibilang mungkin dia salah satu anak paling sial di kota ini. Setelah mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan di sekolahnya, prestasinya yang seperti batu hitam besar tenggelam di dasar sungai, dan hari terakhirnya dia menangis sesenggukan di teras sekolah, sambil memeluk tas kumal berisi satu buku tulis tipis, karena dia tahu esok tak bisa kembali ke sekolah itu lagi.

Ayahnya tak pernah memaksa Ben untuk bekerja seperti ini, apalagi ibunya. Ayahnya merasa sudah cukup dengan penghasilannya sebagai kernet bis kota, dan tugas Ben adalah membantu ibu di rumah. Tapi Ben tidak mau. Dia ingin melakukan sesuatu, lebih dari menyapu lantai dan menimba air untuk mandi. Tapi pekerjaan sederhana yang menghasilkan uang untuk ibunya.

Dan dia pun berakhir di jalanan. Sebagai penyemir sepatu. Dengan penghasilan hanya beberapa ribu per hari. Dia pun harus melatih kemampuan berlarinya dan pengenalan pada gang-gang kelinci di sekitar sini. Karena terkadang kemampuan itu akan diuji, ketika TRANTIB mengejar siapa saja anak jalanan dan gelandangan yang terlihat.

Dan itu dia di sana, anak yang penuh kesialan itu. Dia sedang asyik bercengkrama dengan seorang pria Amerika sembari menyikat sepatunya. Ben pernah menyebut Mister Michael adalah manusia favoritnya. Orang paling ramah dan baik hati yang pernah dia temui. “Herannya kok Mister Michael kagak kawin ya? Kalo babeh gue mati, gue mau mak gue kawin sama dia. Dia jadi babeh gue, Babeh Michael,” begitu celotehnya suatu ketika.

Tapi kali ini perasaanku tidak enak, ketika sebuah ekskafator berdenging dan mendekatiku. Seorang petugas mengarahkan supirnya untuk semakin mendekat, hingga kabel derek di belakang ekskafator itu bisa mencapai aku dan ayah ibuku. Gusarku semakin dalam, ketika kabel itu dililitkan di sekeliling tubuh kami. Ben!. Ben! Aku ingin berteriak memanggilnya, meminta bantuannya. Tapi aku tidak bisa. Tidak ada suara yang keluar dari mulutku. Ben! Aku hanya berharap dia menghentikan candanya dengan Mister Michael dan menoleh sejenak. Oh Tuhan, tolong panggilkan Ben, pintaku dalam hati.

“Lho lho, pak! Michael mo dibawa ke mana?” ah, syukurlah Ben melihat. Dan dia berlari dengan kegusaran yang sama dengan yang kurasakan.

“Pak, jangan dipindahin Michael,” Ben memohon pada petugas itu.

“Michael apaan? sok tahu lu anak kecil. Ni patung mo dipindah ke taman Suropati. Sayang disimpan di sini. Dekat terminal, dekat stasiun, jorok. Mending ditaruh di taman, biar cakepnya keliatan ni patung,” begitu kata sang petugas.

“Pak, jangan pak, di sini aja pak,” Ben menghiba, suara sengaunya semakin menjadi ketika matanya mulai berkaca-kaca. Aku tahu, hanya aku temannya, dan hanya dia temanku. Dan kami pasti akan merasa sangat kehilangan bila dipisahkan. Tapi Ben hanya bisa memohon, dan bibirnya mulai bergetar. Sementara aku tak punya daya untuk menolak, apalagi memberontak, ketika kabel derek itu diputar dan tubuhku terangkat semakin tinggi dan berdebam di atas truk. Perlahan wajah sedih itu menjadi mengabur dan jauh. Tapi suara tersedu sayup masih bisa kudengar, “Michael... jangan dibawa pergi...”



*inspired by Michael Jackson's song

4 Jul 2008

THE GIRL IS MINE


“Bolehkah aku menyesal?”

“Apa maksudmu?”

“Aku tahu sebenarnya aku tidak boleh menyesal, sedikit pun. Tapi tak bisa aku pungkiri rasa ini menyelinap di hatiku.”

“Apa yang sebenarnya kamu sesali?”

“Membawa adikku...”

“Membawa adik... ah, rasanya aku tahu ke mana arah pembicaraan ini.”

“Ya, dan memalukan, kan?”

Pria berambut pirang itu hanya menggelengkan kepala perlahan. Pandangannya ia alihkan ke asbak abu-abu yang sudah mulai menghitam di hadapan mereka.

“Apa maksud gelengan kepala itu?”

“Aku mengerti apa yang kamu bicarakan. Tapi aku tidak mengerti kenapa.”

“Sungguh?”

“Sungguh. Memangnya aku pernah berbohong padamu?”

”Tentu saja kamu pernah berbohong padaku. Tidak perlu berlagak sok suci. Dan kamu pikir aku terlalu bodoh untuk menyadari kapan kamu membohongiku?”

Kedua pria baya itu tertawa. Pria berambut pirang itu menghisap rokoknya dalam-dalam, bunyinya gemeretak dan bara merah merambat beberapa mili mendekati bibirnya.

“Kamu menyesal membawa adikmu menjadi muslim, seperti kamu kan?”

Pria berkulit hitam itu mengangguk perlahan sebelum akhirnya sesaat tak ada suara di antara mereka berdua. Hanya sekali suara gemeretak tembakau yang terbakar terdengar lagi.

“Memalukan bukan?”

“Aku belum bisa memutuskan itu memalukan atau tidak sebelum kamu menjelaskan alasannya padaku.”

Pria berkulit hitam itu menarik napas, seakan mencoba mengumpulkan kekuatan dari udara di sekitarnya.

“Aku jatuh cinta pada seorang wanita.”

“Lalu?” tanya si rambut pirang ketika teman kulit hitamnya tidak meneruskan ucapannya.

“Tapi wanita ini memilih adikku.”

“Dan adikmu...?”

“Adikku juga mencintainya.”

Si rambut pirang menghisap rokoknya lagi. Ruangan berasap itu kini semakin pengap oleh bau cengkeh terbakar. Pria kulit hitam itu tidak merokok, dia hanya sesekali mengibaskan tangannya mengusir asap dari wilayah napasnya. Mereka sudah bersahabat sekian lama. Dan persahabatan yang telah melalui banyak rintangan dan kompromi itu memuarakan hubungan mereka menjadi rasa saling menghormati atas perbedaan yang begitu besar. Salah satunya kebiasaan merokok ini, dan yang lain adalah perbedaan agama mereka.

“Wanita itu muslim,” si kulit hitam meneruskan ceritanya.

“Jadi kamu pikir seandainya kamu tidak mengajak adikmu masuk islam, maka kamu yang akan mendapatkan wanita itu?”

Si kulit hitam tidak menjawab. Tangannya meraih kotak rokok di atas meja dan menutupnya. Seperti sebuah permintaan tanpa suara agar sahabat kulit putihnya mencukupkan tambahan asap rokok sekarang juga.

“Kalau kondisinya seperti dulu, maka hanya aku yang beragama islam di keluargaku. Dan wanita itu tidak akan memilih adikku. Dan kalau pun dia tidak mencintaiku, maka dia tidak akan memilih siapa pun. Tapi yang jelas, tidak akan memilih adikku.”

“Kamu mengucapkannya dua kali.”

“Aku tahu,” dia tersenyum getir.

“Kamu berharap aku berkata apa?”

Si kulit hitam hanya mengendikkan bahunya.

“Mungkin kamu akan berkata, ‘sudahlah ikhlaskan saja mereka. Toh kamu mencintai adikmu juga kan. Tak ada yang lebih baik dari pada melihat orang-orang yang kamu cintai bahagia’.”

Si kulit putih memandang wajah putus asa temannya.

“Atau kemungkinan yang kedua kamu akan berkata, ‘wanita mana pun tentu saja akan lebih memilih adikmu daripada kamu. Jadi seharusnya kamu menyadari hal ini sebelum semuanya terjadi.’ Begitu kan?”

“Mendekati, yang pertama. Tapi yang kedua sepertinya tidak. Tapi yang aku heran, baru kali ini aku melihat kamu iri pada adikmu. Bukankah selama ini kamu sangat bangga padanya, dan selalu berusaha melindunginya?”

“Dulu kami punya kehidupan sendiri-sendiri. Tapi kali ini entah mengapa wanita ini mempertemukan kami berdua di titik yang sama. Michael, selalu Michael. Dia selalu menjadi yang lebih bahagia dibanding kami semua.”

“Benarkah?” seperti ada kejutan kecil yang menghentak wajahnya. Ia menekan rokoknya di asbak, dan bara itu pun padam.

“Siapa di antara kalian semua yang paling frustasi dengan fisiknya?”

Pria kulit hitam itu tidak menjawab.

“Siapa di antara kalian semua yang selalu bersembunyi seumur hidupnya?”

Dia masih tidak menjawab.

“Dan siapa di antara kalian semua yang paling tidak berhasil dalam kehidupan cintanya?”

Lagi-lagi dia tidak menjawab.

“Dan kamu masih ingin mengatakan bahwa dia selalu menjadi yang paling bahagia?”

Dia tetap tidak bersuara.

“Paling tidak kalian semua pernah merasakan jatuh cinta, cinta yang sejati, bukan cinta palsu atau cinta sesaat. Aku justru merasa adikmu Michael itu yang paling sengsara hidupnya dibanding kalian semua. Kalau pun kali ini dia bisa merasakan cinta sejati, mungkin ini yang pertama dalam hidupnya. Berilah dia kesempatan. Toh kamu sudah pernah merasakan hidup penuh cinta bersama Victoria.”

Pria berambut pirang itu meraih kotak rokoknya, tapi kemudian ditutupnya lagi dan diletakkan kembali ke atas meja.

“Lagipula kamu lebih pantas menjadi ayah dari wanita ini daripada menjadi suaminya.”

“What? Kamu tahu wanita ini?”

“Aku cuma menebaknya. Dia tetangga baru kakakmu kan? Yang tinggal di sebelah rumahnya?”

“How do you know?”

“TJ pernah bercerita padaku.”

“Really?”

“Yah. Dan sepertinya TJ juga jatuh cinta padanya.”

“WHAT?”

Pria kulit putih itu tertawa terbahak-bahak melihat wajah sahabatnya. Dia meraih lagi kotak rokoknya dan menyalakan batang yang baru.



*inspired by Michael Jackson's song

11 Jan 2008

SEX STORY


Agus berada pada jarak 500 meter dariku. Tapi aku tidak memanggilnya. Aku enggan berteriak keras. Rasanya tidak pantas seorang wanita yang dipanggil ibu guru oleh penduduk di sini berteriak sekeras itu hanya untuk memanggil seorang muridnya.

Agus terus berjalan tanpa menoleh. Terkadang ia berlari dan melompat kecil ketika bertemu dengan seekor kinjeng yang melintas di atas kepalanya. Terkadang ia merentangkan kedua tangannya ketika melangkah di pematang sawah yang sempit dan licin. Dan aku, yang belum terlalu terbiasa berjalan di pematang yang sama dengan yang ia lewati, tentu saja tertinggal semakin jauh.

Agus adalah salah satu muridku. Ia anak seorang petani buruh, petani yang bekerja mengolah sawah dan padi milik orang lain, dan ia mendapat upah setiap hari jumat, serta bonus setiap kali panen. Bila panen melimpah, melimpah pula bonusnya. Bila panen gagal maka bonus pun terancam nihil. Namun seberapa pun besarnya panen, tetap saja bonus itu habis juga untuk membayar hutang dan membeli beberapa helai pakaian di pasar serta sedikit persediaan makanan.

Aku mengajar di sebuah sekolah kecil di desa ini. Satu-satunya sekolah dengan 28 murid dari kelas 1 sampai kelas 6. Dengan 4 ruang sama besar dan sama rusaknya. Rasanya aku tidak perlu mejelaskan bagaimana kodisi ruang kelas di sini, yang jelas kondisinya tidak berbeda jauh dengan sekolah-sekolah bergedung sekarat yang sering disiarkan di televisi. Aku mengajar hampir semua mata pelajaran, membantu seorang Bapak kepala sekolah yang sudah lebih dari 17 tahun mengajar di sini. Karena aku berasal dari jurusan bahasa indonesia, maka aku berinisiatif untuk memberi pelajaran tambahan “membaca dan menulis” bagi beberapa anak yang berminat. Yah, semacam ekstrakulikuler. Tapi tidak banyak yang mengikutinya, hanya 11 anak. Karena kebanyakan yang lain lebih memilih langsung pulang dan bermain atau membantu pekerjaan orang tua mereka dari pada menambah setengah jam sepulang sekolah dua minggu sekali untuk mengikuti pelajaran tambahan dariku.

Bukannya murid-muridku kurang trampil membaca. Tidak, justru anak-anak yang ada di kelas tambahan ini adalah anak yang memiliki kelebihan dalam kemampuan membaca dan menulis dibanding yang lain. Aku mendekati beberapa anak yang kuanggap cukup potensial, kuajak mereka mengikuti program tambahan ini dengan iming-iming bisa menulis lebih baik dari yang lain. Dan kalau sudah bisa menulis lebih baik, maka mereka bisa berpeluang untuk menjadi seorang penulis terkenal. Dengan menyebutkan nama-nama penulis besar dan memperkenalkan beberapa judul buku mereka yang dikenal di Indonesia bahkan dunia sebagai rayuannya. Dan voila! Hasilnya 11 anak tertarik, termasuk Agus. Meski pun aku tahu angka ini bisa berubah kapan saja. Yang lebih besar kemungkinannya adalah angka ini menyusut seiring bertambahnya waktu. Tapi tidak masalah buatku.

Aku memperkenalkan lebih banyak jenis buku pada mereka. Novel, komik, cergam, puisi, apa saja. Kami membacanya bersama setiap pertemuan, dan mendiskusikannya secara sederhana. Dan buku itu boleh dipinjam setelah pertemuan selesai. Sebagai tugas sebelum pulang, aku selalu menyuruh mereka untuk menulis sesuatu. Apa saja. Meski pun itu hanya satu kalimat, bahkan satu kata sekali pun. Apa saja, yang sedang terlintas di benak mereka.

Agus adalah anak yang sangat pendiam, tidak akan berbicara kalau tidak ditanya. Tapi aku tahu dia anak yang berbakat. Setiap pelajaran bahasa indonesia dan ada tugas membuat kalimat, dia sering membuat kalimat yang berbeda dari teman-temannya. Memang bukan kalimat kompleks dan indah seperti yang biasa dibuat anak-anak seusia mereka di sekolah kota. Tapi kalimat yang membawa ide yang cukup istimewa. Seperti ketika salah satu soal yang tertera di ulangan umum adalah membuat kalimat dengan kata ‘bendera’. Sementara anak lain membuat kalimat tentang upacara bendera, sebuah ide klasik yang turun temurun dari tahun ke tahun, sepertinya hanya perkara upacara bendera saja yang identik dengan kata bendera. Tapi agus membuat kalimat, “Benderaku sobek dan tiangnya patah karena angin kemarin sore.” Betapa kalimat indah yang dibuat dengan ide sederhana dari pikiran sederhana seorang anak desa.

Sepulangnya mereka aku membaca tiap-tiap tulisan yang dibuat muridku. Ada yang berhasil membuat satu kalimat, satu paragraf, bahkan ada yang sudah berhasil membuat sebuah karangan lengkap tiga paragraf. Tapi perhatianku tertumbuk pada satu kertas yang hanya bertuliskan satu kata: “SEX”. Kubaca namanya: Agus. Mengapa ia menulis kata ini? Yah, mungkin ini sebuah kata yang baru untuknya dan cukup menarik perhatiannya. Maka tidak terlalu kupermasalahkan lagi.

Tapi akhirnya ini menjadi masalah setelah kejadian seperti ini terjadi hingga tiga kali. Dan aku merasa cukup terganggu. Apa maksudnya? Apa yang ada di pikiran Agus kala menulis kata ini? Apakah selama lebih dari seminggu ini hanya satu kata saja yang terlintas di pikirannya? Mengapa kata-kata ini begitu menarik perhatiannya dan melekat di benaknya? Aku khawatir jangan-jangan ia menyimpan sebuah pesan pada tulisannya. Bahkan pikiran bahwa dia mendapat perlakuan yang tidak sepantasnya sempat terlintas di benakku. Tapi mengapa ia menulis dengan huruf X, tulisan dalam bahasa inggris? Apakah sebenarnya dia ingin bertanya padaku tapi terlalu malu untuk bertanya langsung?

Maka aku pun akhirnya berjalan di pematang sawah ini, mengikuti Agus yang berada pada jarak 500 meter di depanku. Awalnya aku bermaksud hendak mengajak Agus mengobrol, bertanya langsung padanya mengapa ia selalu menulis kata itu di kertas tugas. Sayangnya aku terlambat beberapa menit, Agus sudah pergi. Ibunya bilang ia ‘nyebrang’, begitu cara mereka menyebut daerah yang berada di seberang jalan. Di tepi desa ini memang dilalui sebuah jalan raya antar propinsi. Dan di seberang jalan raya itu masih terdapat banyak sawah dan ladang penduduk. Sejak hampir dua puluh tahun yang lalu desa ini dibelah oleh sebuah jalan raya penghubung antar kota. Dan sejak saat itu ratusan mobil dan truk besar melintas setiap harinya, pelancong dan pemudik melaluinya setiap liburan.

Maka aku pun menyusulnya, berharap bisa mengobrol dengannya mungkin di gubug di tengah sawah garapan ayahnya, atau di mana saja tempat nyaman yang bisa kami temukan. Aku terus mengikutinya, sambil berharap dia menoleh dan melihatku, lalu menghentikan langkahnya. Agar aku tidak perlu berjalan terlalu jauh. Tapi aku terus berjalan dan berjalan, mengikutinya dari jarak 500 meter. Terkadang semakin dekat ketika agus berhenti sejenak untuk mengambil rumput panjang di tepi kakinya, terkadang semakin jauh ketika aku harus melintasi pematang licin seperti sekarang. Masalahnya adalah aku tidak tahu tepatnya di mana sawah garapan Bapak Agus. Kalau jarak kami terlalu jauh aku bisa kehilangan dia juga kesempatan untuk bertanya padanya.

Hingga akhirnya agus sampai di tepi jalan raya. Aku berharap kendaraan yang melintas akan menghentikannya sejenak sebelum menyebrang. Tapi terlambat. Dia berlari kecil menyebrang jalan dan rasa putus asa hampir sampai di kerongkonganku. Namun tiba-tiba sesampai di seberang dia berhenti. Dia berdiri di dekat sebuah baliho besar, berdiri tegak sambil memandangnya lekat. Cukup lama, hingga aku bisa mendekat sampai jarak kami tinggal 100 meter lagi. Tepat ketika aku hendak berteriak memanggilnya, dia kembali berjalan. Tidak, tidak berjalan. Dia berlari. Aku pun berlari mengejarnya. Tapi tepat ketika aku tiba di tepi jalan, kendaraan-kendaraan melaju cepat dan rapat. Aku kehilangan dia lagi. Lalu aku melihat benda itu, baliho besar itu, baliho yang tadi sangat menarik perhatian Agus hingga dia rela berhenti beberapa menit untuk memandangnya. Itu sebuah baliho iklan. Dan di situ tertulis:


SEX

NOW WE HAVE YOUR ATTENTION

EAT AT US


Di bawahnya tertulis nama dan alamat sebuah restoran yang akan dilintasi beberapa ratus meter dari sini.

Ya Allah, aku baru mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Tulisan ini begitu menarik perhatian Agus, bahkan mungkin membuatnya penasaran setengah mati dengan artinya yang tidak dia mengerti. Ia tidak bisa membaca kalimat panjang dalam bahasa inggris itu, apalagi menuliskannya. Ia hanya bisa mengingat satu kata yang tertulis paling atas dan paling besar. Namun artinya pun mungkin dia tidak tahu. Maka rasa ingin tahunya membawa satu kata itu terus di dalam otaknya.

Akhirnya aku memutuskan untuk tidak mengikutinya lagi, lagipula dia sudah terlalu jauh. Maka aku berhenti di sini. Aku duduk di bawah sebuah pohon kecil yang cukup rindang dan menunggunya hingga ia datang. Sekitar setengah jam kemudian dia muncul, tampak terkejut melihatku duduk sendiri di situ. Tapi dia pun mendekat setelah aku tersenyum dan melambai kepadanya. Lalu kami duduk bersama, membicarakan banyak hal. Bukan, bukan tentang SEX, tapi tentang Agus, aku dan semua hal yang ada di sekitar kami.



*Terinspirasi dari sebuah iklan di Amerika Serikat. Saya lupa tepatnya bagaimana bunyi klan yang asli dan apa nama restorannya. Sorry ya... :)

SEPULUH KUPU-KUPU

“Selamat sore, Mike. Bagaimana kabar anakmu?” tuan Will, pemilik kios sayur menyapa Michael yang melintasi tokonya.

“Anakku? Yang mana? Aku tidak punya anak,” ujar Mike sambil lalu. Ia bersendawa keras, bau alkohol melayang di sekitar wajahnya yang kusam. Ia melangkah sempoyongan dan menabrak keranjang kentang di depannya.

“Tampaknya kau sedang sial hari ini.”


“Aku selalu sial, apalagi sejak aku tinggal dengan anak cacat yang tidak berguna itu. Ia hanya memperlengkap kesialanku,” Mike mengacak rambut keritingnya yang kusut dan berketombe. Tuan Will tidak melanjutkan percakapannya, ia lebih memilih diam. Ia tak ingin Mike lebih lama ada di dekat tokonya. Bisa-bisa sebentar lagi dia akan muntah di keranjang sayuran, atau yang lebih parah lagi dia akan mulai mengamuk dan menghancurkan segalanya.


Michael dikenal sebagai salah satu warga tidak berguna di desa mereka. Seorang pengangguran yang kerjanya hanya mabuk dan judi dari uang hasil rampasan atau rampokan. Ia memiliki seorang anak tiri, Jhony, anak istrinya. Baru tiga bulan ia menikah dengan Suzane, Suzane sudah lari meninggalkan rumah, meninggalkan anak kandung dan suami barunya. Ia lebih memilih pria lain yang menurutnya sungguh-sungguh mencintainya dari pada hidup bersama Mike yang memukulinya dan Jhony setiap hari.
Dan rasa sakit hati Suzane itu dilampiaskan pada anak satu-satunya yang ia dapatkan dari seorang pria mabuk yang tidak dikenalnya, yang baru sekali ia temui di sebuah klab malam dan tidak pernah ditemuinya lagi setelah itu. Ia memang membenci anak itu, karena baginya anak itu adalah kutukan, seorang anak yang tuli dan bisu, anak yang sama sekali tidak ia harapkan.

Seperginya Suzane, Jhony yang baru berusia 10 tahun tinggal bersama Mike di rumah tua mereka. Jhony, yang dulu, sebelum ada Mike, berusaha untuk mempertahankan hidupnya dengan caranya sendiri, sejak tiga bulan lalu harus pula melayani ayah tirinya, memenuhi kebutuhan perutnya yang seperti tidak pernah kenyang. Setiap hari Jhony bangun ketika ayam jantan dan domba-domba pun masih mendengkur. Ia mulai membersihkan rumah, mengambil air dari sumur untuk mandi dan minum kemudian mencuci pakaiannya yang sedikit dengan mesin cuci tua yang telah berkarat dan tidak berfungsi mesin pengeringnya. Seminggu sekali ia mencuci sweater biru mudanya yang warnanya sudah mulai pudar.


Jhony tidak pernah mengganti sweaternya, itu satu-satunya pakaian hangat yang ia miliki. Dengan kamar yang lembab dan dingin sweater biru muda itu hampir tak pernah lepas dari tubuhnya, bahkan serasa lengket seperti kulitnya sendiri. Dan ketika sweater itu harus ia cuci, ia melepasnya dan menunggu mesin cuci menggiling sweaternya di ruang cuci di bawah tanah. Setelah dicuci ia harus memeras sweater itu sekuat tenaga untuk kemudian ia kenakan lagi.
Lalu ia akan memangkas rumput di bawah sinar matahari yang rabun sekaligus mengeringkan sweater biru mudanya.

Saat senja datang Jhony keluar rumah. Ia mengunjungi beberapa toko untuk mengambil secara cuma-cuma sisa-sisa dagangan yang tidak terjual. Kubis dan brokoli yang layu, kentang dan wortel yang mulai membusuk, roti yang mulai berjamur dan dijadikan roti bakar untuk menghilangkan jamurnya. Kalau sedang beruntung ia diberi sisa-sisa kaki ayam yang tidak terbeli yang warnanya mulai menguning atau jeroan ayam yang hendak dibuang. Bila ia tidak mendapatkan di satu toko maka ia akan mencari di toko lain, hingga semua yang ia dapatkan dirasa cukup.


Ia beruntung memiliki tetangga yang sangat baik, walau pun mereka sangat jarang memberikan barang-barang bagus secara cuma-cuma. Tapi sisa-sisa bahan makanan itu sudah lebih dari cukup baginya. Para tetangga merasa kasihan melihat keadaan Jhony. Tapi mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Selain karena urusan mereka sendiri yang sudah sangat rumit, mereka juga tidak berani ambil resiko dengan mencampuri kehidupan pribadi Mike. Bahkan mereka tidak berani mengadukan Mike pada dinas sosial perlindungan anak. Walau pun Mike sangat membenci anak tirinya, bahkan lebih menganggapnya sebagai pembantu dari pada seorang anak, tapi ia tidak akan melepaskan anak itu dari cengkramannya. Karena tanpa anak itu dia tidak bisa mengurus diriya sendiri.


Sesampainya di rumah Jhony memasak semua itu untuk makan malamnya dan ayah tirinya bila ia pulang. Keesokan hari ia memanaskan kembali sisa-sisa masakan kemarin untuk sarapan dan makan siang. Kadang-kadang ia mendapat beberapa buah jeruk layu yang dapat ia peras sisa-sisa airnya. Untungnya ia belum bosan merasakan hari-harinya yang monoton, sendiri, tanpa Ibu atau pun saudara. Sementara dengan Mike, Jhony lebih suka hidup sendiri karena itu akan lebih baik baginya. Tak jarang Mike memukuli Jhony untuk berbagai alasan yang lebih sering tak masuk akal.


Mike menemukan kamarnya dalam keadaan rapi. Ia memanggil Jhony dengan panggilan kasar yang selalu ia teriakkan,


“Anak sial! Kemari kau!” walau pun ia tahu teriakannya itu percuma karena Jhony tidak akan mendengar suaranya tapi ia terus saja mengomel sambil melangkahkan kakinya di tangga.


“Aku sudah berkata berulangkali jangan masuk ke kamarku. Kau akan mencuri pakaianku dan barang-barangku. Kau kira aku tak tahu hal itu?” Maka ia segera naik ke loteng, ke kamar Jhony dan menemukannya melingkar kedinginan di kasurnya yang tipis dan kumal berkutu. Mike menarik selimutnya yang berdebu kemudian tanpa berkata apa-apa ia memukul Jhony bertubi-tubi.


Selalu begitu setiap kali ia menganggap Jhony melakukan kesalahan. Ia memukulinya, kadang dengan sumpah serapah untuk meluapkan amarahnya, kadang tanpa berbicara karena ia menganggap percuma berbicara pada seorang anak tuli yang tidak akan mendengar ucapannya. Dan Jhony selalu terisak kesakitan tanpa ia pernah mengerti apa kesalahannya.


Mike meninggalkan Jhony meringkuk di bawah jendela kamarnya. Isaknya hampir tak terdengar, hidung dan telinganya berdarah, ingusnya keluar bercampur dengan darah. Diusapnya dengan ujung lengan sweater biru mudanya. Ia segera bangun dan beranjak turun. Ia tahu ia harus menyiapkan makan untuk ayah tirinya, kalau tidak sebentar lagi pukulan semacam tadi akan terulang.


Mike sedang lekat menatap televisi yang menyiarkan acara murahan, volumenya terdengar sangat keras sehingga ia tidak menyadari kedatangan Jhony. Jhony tidak peduli, itu lebih baik daripada Mike mengganggunya. Jhony memeras jeruk layu dan memanaskan sup kubis yang ia buat kemarin sore. Dihidangkannya di depan Mike dan segera berlalu sebelum Mike bertingkah macam-macam dan menemukan alasan baru untuk menyiksanya lagi. Mike mengambil piring sup dan menyantapnya seperti seekor babi yang kelaparan. Sebenarnya ia tidak suka sari jeruk, ia lebih suka alkohol. Tapi mereka tidak punya uang untuk membeli minuman keras bahkan sekedar membeli beberapa batang rokok, maka Mike meminumnya saja daripada ia kehausan.


Setelah makanan habis ia tertidur pulas di sofa dengan tubuhnya yang bau. Terkadang ia muntah di sofa dan lantai kemudian meninggalkan bekas muntahan dan beranjak tidur di kamar. Biasanya tengah malam nanti Mike akan terbangun dan pergi lagi.


Jhony menelekan sikunya di tepi jendela. Sakit sisa pukulan tadi sudah tidak ia rasakan lagi. Matanya menerawang menatap pohon di bawah jendelanya. Batangnya besar dengan dahan-dahan yang becabang ke segala arah, membuat daerah di bawahnya rindang dan dingin. Salah satu dahan pohon masuk melalui jendela. Jhony sengaja hanya menutup satu sisi jendela, ia tak ingin merusak bagian pohon itu.


Saat musim semi seperti ini beberapa bunga kecil berwarna kuning kehijauan akan tumbuh di dahan itu. Dan sepuluh ulat-ulat kecil baru saja menghabiskan daun segarnya. Ulat-ulat itu berwarna kemerahan dan bersinar di malam hari. Setiap malam titik-titik sinar yang dipancarkan tubuh ulat-ulat kecil itu menemani Jhony. Jhony selalu terisak di dekat jendela, seakan-akan ia berbicara dengan ulat-ulat itu dengan hatinya. Ia merasa ada kedekatan tertentu dengan mereka yang tidak bisa dijelaskan dengan logika. Sejak beberapa hari yang lalu ulat-ulat itu telah menggulung tubuhnya kekenyangan dan bertapa di dalam kepompongnya yang bergantungan. Dan jhony sangat menantikan seperti apa kupu-kupu ulat itu nantinya. Jhony menghitung dalam hati jumlah kepompong itu,


“Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan, sembilan, sepuluh.” Sepuluh kepompong, belum berkurang. Sejak awal kehadiran ulat-ulat kecil itu Jhony menghitung jumlahnya. Ia tak ingin kehilangan satu pun dari mereka.


Jhony mendekatkan wajahnya ke salah satu kepompong, tampaknya kepompong itu mulai terbuka kulitnya. Seleret sayap tipis keluar dari retakan kepompong. Jhony belum bisa melihat secara jelas seperti apa kupu-kupu itu. Tampaknya warnanya muda dan mungkin seekor kupu-kupu yang cantik. Jhony ingin menunggu seluruh proses kelahiran kupu-kupu itu, namun matanya sudah terlalu lelah dan sisa-sisa sakit di tubuhnya membuat Jhony merasa ingin merebahkan diri lagi. Matahari mulai sembunyi, sinar merah keemasan tersisa di tepi dinding kamar menandakan tak lama lagi dunia akan kehilangan terangnya.


Tengah malam Jhony terbangun, ia merasa ada sesuatu yang menggelitik telinganya. Jhony mengerjapkan matanya mencari sedikit sinar bulan yang menembus kamar. Ia melihat sebuah sinar kecil benderang berputar-putar di dekat kepalanya. Jhony mengusap matanya, dan tampak jelas baginya sinar apa itu.


Seekor kupu-kupu memancarkan cahaya berwarna merah muda lembut terbang mengepakkan sayapnya, sinarnya bergerak-gerak kemudian ia mendarat di tepi ranjang. Kupu-kupu itu mengepakkan sayapnya beberapa kali kemudian terdiam dengan sayap tertutup ke arah atas.Jhony menyentuh kupu-kupu itu dengan ujung jari telunjuknya. Benar, itu kupu-kupu. Ia dapat merasakan serbuk halus menempel di jari. kupu-kupu yang sangat indah. Warnanya merah muda, tubuhnya bening seperti kaca, tapi lembut seperti kapas, dan sinar yang memancar itu membuatnya terlihat semakin cantik.
Jhony menatap lekat kepala kupu bening itu. Ia berpikir mungkin itu seorang peri seperti dalam dongeng dan berharap akan menemukan seraut wajah manusia mungil yang cantik seperti putri. Tapi tidak, itu memang kupu-kupu. Tubuh dan wajahnya sama seperti kupu-kupu, hanya saja bening dan bersinar. Mata Jhony tidak mengantuk lagi, ia terjaga, betul-betul terjaga. Seakan ia lupa dengan seluruh rasa letih dan sakit pada tubuhnya. Semalaman itu Jhony tidak lagi tidur, ia asyik bermain-main dengan kupu bening hingga pagi.

Ketika matahari kembali bersinar Jhony memulai aktifitas rutinnya. Kupu bening terbang mengikutinya ke mana pun ia pergi. Tubuhnya yang bening semakin indah tertimpa sinar mentari. Walau pun kupu bening tidak tampak bersinar di siang hari, tapi ia masih tetap cantik. Pantulan cahaya matahari berwarna merah muda berkelap-kelip di wajah Jhony setiap kali kupu bening itu mengitarinya. Jhony merasa lebih bersemangat hari itu.
Seperti biasa Mike sudah tidak ada di rumah. Jhony tidak perlu menunggu kapan Mike pulang, karena memang tidak pernah pasti kapan ayah tirinya itu pulang. Kemudian membersihkan seluruh bagian rumah, ia mencuci semua piring, mencuci pakaian dan sweater biru mudanya yang terkena noda darah kemarin, lalu bermain di halaman sambil mengeringkan sweater kesayangannya itu. Ia berlari-lari mengejar kupu bening, sesekali kupu bening itu berhenti pada sebuah bunga dan Jhony menunggu sambil memperhatikan kupu bening itu menghisap sari bunga. Setiap orang yang lewat, maka ia akan berhenti dan memperhatikan kupu bening itu dari depan pagar.

“Cantik sekali kupu-kupu itu, Jhony. Itu milikmu?” Jhony hanya tersenyum, ia tidak mendengar apa yang diucapkan orang-orang itu, tapi ia mengerti pasti mereka mengagumi dan memuji kupu beningnya.


“Boleh aku mendekatinya?” beberapa orang bahkan ingin melihatnya dari dekat, kemudian menyentuh sayapnya dan membuat kupu bening itu terbang lagi ke belakang punggung Jhony seakan meminta perlindungan. Jhony merasa sangat bahagia.
Biasanya tidak banyak orang yang menyapa Jhony walau pun mereka lewat di depan rumah setiap hari. Tapi kupu bening itu telah menarik perhatian mereka. Bahkan ketika sore harinya Jhony berjalan ke toko-toko untuk meminta sisa-sisa bahan makanan, Jhony mendapatkan reaksi yang tidak biasa. Ketika ia mengunjungi toko tuan Will, istri tuan Will terpana melihat kupu bening yang berputar di dekat pundak Jhony,

“Oh, lihat kupu-kupu itu. Cantik sekali. Darimana kau mendapatkannya, Jhony? Bagaimana bisa ia begitu jinak padamu seperti seekor anjing pada pemiliknya.” Tuan Will dan istrinya mendekati kupu bening. Tuan Will membetulkan letak kaca matanya dan membungkuk di depan Jhony.


“Lihat Will, cantik sekali bukan? Sayapnya bening, seperti kaca,” ujar istri tuan Will lagi.


“Spertinya ini bukan kupu-kupu biasa,” tuan Will menepuk pundak Jhony dan tersenyum ramah. Jhony membalas senyumnya. Kemudian ia mengangguk meminta ijin untuk mengambil sayur seperti biasa. Ia beranjak ke belakang toko mendekati keranjang yang hampir kosong, hanya tersisa beberapa ikat sawi putih dan kentang-kentang kecil masih berwarna hijau. Jhony memasukkan ke dalam kantung kertas yang ia bawa. Lalu ia kembali ke depan untuk berpamitan dan mengucapkan terima kasih.


“Jhony, bawalah ini,” istri tuan Will menyerahkan sebuah bungkusan plastik. Jhony menyentuh plastik itu perlahan untuk mengenali isinya tanpa harus membuka ikatannya.


“Beberapa butir telur,” ujar tuan Will,


“Anggap saja sebagai hadiah.” Wajah Jhony berbinar senang. Ia membungkuk beberapa kali tanda bahwa ia sangat berterima kasih. Ia hampir tidak pernah mendapat telur, karena biasanya telur habis terjual, lagi pula telur yang busuk tidak mungkin bisa dimakan lagi.
Jhony keluar toko tuan Will dengan wajah berseri-seri. Ia merasa dengan mendapatkan telur itu yang diperolehnya sudah cukup. Ia bisa membuat sup dari sayur itu dan menggoreng telur. Jhony hendak melangkah pulang, tapi entah mengapa hatinya merasa ingin berjalan-jalan sejenak. Maka ia memilih jalan pulang memutar dengan melalui jembatan kecil dan peternakan sapi milik Zamar, anak desa seusianya. Ketika Jhony melewati peternakan Zamar ia melihat Zamar di depan rumahnya sedang duduk di atas tempat memotong kayu bakar. Tuan Amri, ayah Zamar berada di antara sapi-sapinya yang digembalakan di samping rumah. Zamar melambai pada Jhony dan berlari mendekatinya.

“Hai Jhony, dari kejauhan tadi aku melihat sesuatu melayang-layang memantulkan cahaya di atas kepalamu. Apa itu? Kunang-kunang kah?” tanya Zamar. Jhony mengerti Zamar tertarik pada kupu beningnya. Maka ia meletakkan telunjuknya di dekat kupu bening itu, dan kupu bening itu seperti mengerti ia hinggap di telunjuk Jhony. Jhony menyorongkannya ke dekat wajah Zamar.


“Wah, seekor kupu-kupu, kupu-kupu yang cantik seperti terbuat dari kaca. Ayah, coba lihat ini! Ayah!” Zamar berteriak memanggil ayahnya. Tuan Amri berjalan mendekat.


“Mahluk apa ini?” tanya tuan Amri.


“Kupu-kupu Ayah. Indah sekali kan? Seperti kaca.” Jhony tersenyum bangga, semua orang menyukai kupu beningnya.


“Wah Jhony, sepertinya ini bukan kupu-kupu biasa, mungkin ia turun dari surga. Kupu-kupu yang terindah yang pernah aku lihat,” tuan Amri dan Zamar tertegun melihat kupu bening itu. Tapi Jhony harus segera pulang, sebentar lagi matahari akan tenggelam. Maka ia berpamitan pada tuan Amri dan Zamar.


“Hai tunggu dulu, aku punya sedikit susu untukmu. Tunggu di sini,” tuan Amri berlari menuju ke kandang sapinya.


“Sejak kemarin kami panen besar. Kau tahu, sapi-sapi kami menghasilkan susu yang banyak sekali. Ayahku mendapat uang yang banyak dari penjualan susu-susu itu. Sepertinya saat ini saat terbaik dalam tahun ini. Dan ayahku tidak akan keberatan kalau kau membawanya sedikit,” ujar Zamar sambil memasukkan kedua tangannya ke kantung. Tak lama tuan Amri muncul membawa dua botol susu.


“Bawalah ini. Tapi semoga saja ayahmu tidak menghabiskan untuk dirinya sendiri.” Jhony sangat berterima kasih pada pemberian mereka. Ia menganggukkan kepalanya berulang kali dan bergumam dengan lidahnya yang kelu.


“Ya, sama-sama. Semoga harimu beruntung,” jawab tuan Amri.
Jhony menjinjing kantung sayur dan telur di tangan kirinya serta dua botol susu ditempelkan ke dada dengan tangan kanannya. Ia merasa sangat beruntung hari ini. Semua orang ramah padanya, menyapa ketika lewat, dan memberi sangat banyak barang secara cuma-cuma. Jhony tersenyum pada kupu bening yang bertengger di bahu kanannya. Dalam hati ia mengucapkan terima kasih, mungkin kupu bening adalah alasan semua kejadian menguntungkan hari ini.

Ia memasak telur dan sayur untuk berpesta sendiri di rumahnya, tanpa ayah tirinya yang jahat dengan semua makanan enak yang terhidang hari ini. Sementara kupu bening terbang berputar-putar mengelilinginya. Namun belum juga ia makan malam, tiba-tiba pintunya diketuk. Sepertinya ada tamu, karena itu pasti bukan Mike. Mike tidak akan mengetuk pintu bila datang. Jhony tidak mengerti, sebelumnya tidak pernah ada orang yang berkunjung ke rumahnya. Ketika Ia membuka pintu ternyata nyonya Arin dan putrinya yang sudah remaja, Eva. Jhony menatap mereka tanpa mempersilahkan masuk, ia hanya sedikit membuka pintu.


“Selamat malam Jhony. Apakah kami mengganggu?” ujar nyonya Arin ramah.


“Kami mendengar dari semua orang bahwa kau memiliki seekor kupu-kupu yang sangat cantik. Katanya seperti kaca berwarna merah muda. Boleh kami melihatnya?” Jhony diam saja, Ia kebingungan. Belum sempat ia memutuskan mempersilahkan atau tidak, ternyata kupu bening terbang ke arah pintu dan memperlihatkan dirinya. Tubuhnya yang bening bercahaya di tengah ruangan yang temaram.


“Oh Tuhan, indah sekali kan Mama?” ujar Eva. Melihat kupu bening menampakkan diri Jhony pun membuka pintu dan mempersilahkan mereka masuk. Ia percaya kupu bening dapat mengetahui siapa yang berniat baik dan siapa yang tidak.


“Kami datang hanya ingin membuktikan perkataan orang-orang. Dan kami baru percaya setelah kami melihatnya sendiri. Lihatlah, betapa eloknya kupu-kupu ini,” Nyonya Arin dan Eva sesaat mengagumi keindahan kupu bening hampir tak percaya. Tak lama kemudian mereka pun berpamitan pulang,


“Sebenarnya kami belum puas melihat kupu-kupu ini, tapi kami mengerti kamu hendak makan malam. Dan kami tidak ingin mengganggumu. Karena itu kami pergi saja sekarang. Oh ya, boleh kan kami melihatnya setiap hari? Rasanya kami tidak akan pernah bosan menatap kupu-kupu ini. Kalau kau mau kau boleh singgah di rumah kami, barangkali kau ingin makan malam bersama kami kapan-kapan?”


“Kami pulang dulu. Dan ini, kami membelikan sedikit apel untukmu,” Eva menyerahkan sebungkus apel berwarna merah muda kehijauan. Apel yang sangat lezat, pasti. Dan seumur hidup Jhony belum pernah makan apel seperti itu.Jhony betul-betul pesta malam ini. Rasanya ia ingin melahap semua makanan dan susu lezat di meja, tapi ia sadar ia tak bisa setiap hari menikmati makanan seperti ini. Maka ia menyimpan sisanya di lemari, berharap besok ia dapat memakan sisanya.


Keesokan pagi Jhony bangun dengan perut keroncongan. Yang pertama ia lakukan adalah menelengkan kepalanya ke atas kepalanya. Ia menarik napas lega, kupu bening ada di situ. Dan itu berarti ia tidak mimpi semalam. Ia langsung teringat pada sisa makan malamnya yang lezat. Ia menjadi sangat bersemangat untuk rutinitasnya, membersihkan rumah, mencuci pakaian, memasak air, dan hal yang paling ditunggu: sarapan. Ketika ia sarapan, terdengar suara pintu depan di buka. Dan dari getaran yang dihasilkan langkah kaki di ruang tamu Jhony bisa mengetahui siapa yang datang: Mike. Tak perlu menunggu lama Mike sudah muncul di hadapannya, dalam keadaan mabuk, bau, dan acak-acakan seperti biasa,


“Hm, makan enak kau rupanya? Mengapa tidak mengundang ayahmu untuk makan malam bersama? Aku hanya minum bir semalam, dan kau makan enak di sini. Lihat ini, susu, telur, apel wow! Betul-betul pesta.” Jhony diam saja melihat Mike merebut piring telur dan meminum susu dari gelasnya.


“Aku sudah dengar semalam. Semua orang membicarakan kau dan peliharaan barumu. Ah, ini dia ya?” Mike menatap kupu bening di bahu Jhony. Tangannya terjulur hendak menyentuhnya. Jhony menyingkir, ia tidak rela Mike menyentuh kupu bening.


“Hei, jangan sombong kau. Baru saja memiliki seekor kupu-kupu kau sudah sombong minta ampun. Bagaimana kalau kau memiliki sebuah kebun binatang?” Mike tertawa terbahak-bahak, ia merasa ucapannya itu sangat lucu. Tiba-tiba Mike mencengkram kerah sweater Jhony,


“Dengarkan aku! Semua orang di bar mengatakan bahwa kupu-kupumu sangat lucu dan siapa pun ingin melihat bahkan memilikinya. Karena itu kau harus memberikannya padaku. Sepertinya ia bisa menghasilkan banyak uang untukku,” Mike menyeringai. Jhony memandang penuh amarah padanya, tapi ia tidak berani melawan.


Mike melompat mulai mengejar kupu bening. Jhony berteriak-teriak mencegahnya, tapi ia tidak mampu. Mike berlari-lari menggapai kupu bening sampai ke loteng. Ia menutup semua pintu dan jendela hingga celah ventilasi untuk mencegah kupu bening kabur. Kupu bening terbang kebingungan, ia tampak ketakutan, seperti apa yang dirasakan Jhony. Mike meraih topi di atas rak dan mengayun-ayunkannya. Ia melompat-lompat hingga menjatuhkan dan memecahkan semua barang. Jhony mulai menangis, ia tidak ingin Mike menangkap kupu bening. Tapi sia-sia, Mike terlalu tinggi dan kuat. Dalam satu gapaian terakhir ia berhasil menangkap kupu bening di dalam topi.


Mike tertawa kegirangan, sementara Jhony semakin menangis meraung-raung. Mike meletakkan kupu bening di dalam toples kaca dan menutupnya rapat. Jhony berusaha merebut toples itu, tapi ia malah terdorong tubuh Mike yang besar.


“Sekarang kau juga harus kukurung, agar kau tidak menganggu kupu-kupuku,” Mike menarik lengan Jhony dan membawanya ke loteng. Tubuh Jhony didorong ke atas ranjang dan menguncinya di dalam kamar. Jhony berlari ke pintu dan berusaha mendobraknya namun ia tidak mampu. Maka ia hanya meringkuk sedih dan menangis di depan pintu kamarnya.


Sementara itu Mike memasang papan di depan pagar bertuliskan “Saksikanlah Kupu-kupu Langka yang Sangat Indah”, dan di sebelahnya ia meletakkan sebuah kotak tempat uang. Tentu saja banyak orang yang ingin melihat kupu-kupu itu secara langsung, karena kabar tentang kupu-kupu bening seperti kaca berwarna merah muda sudah menyebar ke seluruh penjuru kota. Dan mereka tidak keberatan menyerahkan beberapa sen setiap orang atau memberi makanan enak untuk sekedar melepaskan rasa penasaran mereka.


Mike menjaga dengan ketat kupu bening dan ia meminta tolong seorang kawannya untuk menjaga pintu gerbang dan memastikan semua orang memasukkan uang ke kotak. Dan uang hasilnya digunakan Mike untuk berjudi dan mabuk malam harinya.


Jhony tertidur lelah dan lapar malam itu. Ia mengantuk setelah menangis seharian. Tapi tepat ketika subuh masih mendengkur, ia terjaga. Kepalanya terhentak dan terantuk gagang pintu. Ia segera teringat kupu beningnya. Jhony mencoba membuka pintu dan segera ia sadar bahwa percuma saja ia mendobrak pintu itu.

Jhony kemudian memutuskan melakukan segala cara untuk membebaskan kupu bening. Ia keluar lewat jendela dan memanjat turun lewat dahan pohon di jendela. Jhony berlari mengendap-endap ke arah pintu depan. Pintu terkunci. Maka ia mencoba pintu dapur, namun juga terkunci. Jhony mendongak melihat ventilasi dapur yang selalu terbuka sebagai jalan keluar asap dapur. Jhony berusaha memanjat dengan berpijak pada gagang pintu dapur dan berhasil melompat masuk dapur.


Ruangan gelap, tapi ia bisa melihat sinar kupu bening terbang lemah di dalam toples. Pasti ia sekarat kehabisan udara. Mike meletakkan toples itu di atas rak. Perlahan Jhony menggapainya. Namun tiba-tiba lampu menyala dan Mike sudah berdiri di depan pintu.


“Kau pikir aku ceroboh dengan meninggalkan benda berharga itu semalaman?” ujarnya seraya berjalan mendekati Jhony. Jhony mundur namun tangan Mike yang panjang berhasil meraih lengannya dan berusaha merebut toples di tangan Jhony. Jhony mengelak dan berusaha mempertahankan toples itu. Keduanya saling berebut, menarik dan mendorong. Keringat mengucur di seluruh tubuh Jhony yang lebih kecil dan lapar, napasnya mendengus keras dan suaranya mengerang mempertahankan sekuat tenaga.


Namun tiba-tiba PRANG!! Toples itu jatuh ke lantai dan pecah. Keduanya terlonjak. Sedetik kemudian Jhony mulai menangis. Ia mendekati kupu bening dan meraih ke telapak tangannya. Tubuh kupu bening mengeluarkan lendir kuning dari luka terkena pecahan kaca, dan sayapnya yang bercahaya koyak. Sungutnya bergerak-gerak lemah lalu ia terkulai dan tak bergerak lagi. Tiba-tiba sayap bening itu retak sedikit demi sedikit di susul tubuhnya perlahan hancur seperti kapas yang terbakar. Kupu bening berubah menjadi butiran halus seperti debu merah muda bercahaya dan luruh ke lantai. PLAK! Tiba-tiba pipi Jhony terasa panas.


“Kau membunuh kupu-kupuku!” Mike berteriak tepat di depan muka Jhony. Jhony mendorong Mike dengan penuh amarah. Mike semakin naik pitam. Ia kembali menarik Jhony ke kamarnya dan pukulan-pukulan kembali terdengar sepanjang sisa malam hingga ke rumah tetangga mereka. Setelah puas melampiaskan amarahnya, Mike meninggalkan Jhony di kamarnya.


Jhony terkulai lemah di lantai kamar. Darah mengalir dari hidung dan telinganya, wajah dan tubuhnya memar, bahkan sweater biru mudanya yang baru kemarin ia cuci kotor lagi oleh noda darah. Jhony terlalu lemah untuk bangkit bahkan sekedar duduk menatap matahari yang hampir terbit. Sehingga ia tidak menyadari sembilan kupu-kupu merah muda bening seperti kaca bertengger di dekat sembilan kepompong kosong, menunggu hingga sayap mereka cukup kuat untuk terbang. Ketika ruas-ruas putih sinar matahari menembus jendela, Jhony tersadarkan oleh kerlip-kerlip cahaya merah muda menerpa wajahnya.


Mike merasa perutnya keroncongan. Ia memeriksa sisa makanan di dapur yang sudah dingin.


“Anak sial, sudah waktunya kau menyiapkan makanan untukku!” teriak Mike sambil melangkah ke kamar Jhony dan membuka pintunya. Ketika pintu terbuka ia tidak menemukan Jhony di lantai. Mike mencari di bawah selimut juga di kolong tempat tidur dan seluruh sudut kamar, namun sia-sia. Tiba-tiba pandangannya terarah ke jendela kamar dan ia berpikir Jhony melarikan diri lewat jendela. Mike melongokkan kepalanya ke jendela, namun ia tidak juga menemukan Mike. Ia hanya menemukan sepuluh kupu-kupu di ranting pohon yang segera terbang menjauh dan menghilang. Namun Mike sempat melihat warna sepuluh kupu-kupu itu, semuanya bening seperti kaca berwarna merah muda, kecuali yang satu. Ia berwarna biru muda.

7 Jan 2008


Sebuah hati tersayat, sepotong maksiyat terburai ke lantai.

Baunya busuk lebih dari comberan,

rupanya lebih menjijikkan dari daging berbelatung.

Sesosok menakutkan, nista, hina, bongkok, kerdil, hitam, pincang

menghampiri dalam kebekuan,

meraih onggokan merah menghitam itu dan menyorongkannnya tepat ke depan wajah yang terkesima ketakutan.

“Mengapa menghindar?

Ini amalan perbuatanmu sendiri di dunia.

Bawalah ini ke hadapan Tuhanmu, dan katakan padaNya bahwa kau tak membawa wewangian, karena kau tak menyulingnya di dunia.

Kau tak membawa keindahan karena kau tak memolesnya di dunia.

Dan sampaikan salamku padaNya.

Katakan bahwa sosok jiwamu yang buruk rupa menyerahkan pertanggungjawaban dalam ketidakberdayaan.”

SEMALAM PADA BULAN DAN BINTANG


“Bangun, manusia!!” sentakan keras itu membangunkanku dari tidur. Tak lepas keterkejutanku menatap seorang pria berdiri di sisi ranjang, bayangan dinding gubug menutup wajahnya. Sejenak kukerjapkan mata, lampu minyak yang tergantung di dinding gubug mulai meredup sinarnya kehabisan minyak dan tertiup kencangnya angin laut. Plak! Sebuah tamparan panas mengenai pipi kiriku.


“Lekas bangun! Apa yang kau tunggu?!” pria itu menyentakku lebih keras dengan suaranya yang berat dan dalam setelah menampar pipiku. Tersadar pada posisiku, aku beranjak turun dari ranjang dengan kebingungan yang belum usai. Kuraih pakaianku dan kututupkan pada tubuhku yang setengah telanjang. Pandanganku beralih pada seorang wanita yang masih terlelap di ranjang tadi. Kutarik kain tipis yang terjuntai ke bawah, kututupkan ke tubuhnya yang tak berpakaian.


“Cepat!!” teriaknya lagi.


“Sebentar,” suaraku bergetar ketakutan seraya mengeluarkan lima lembar puluhan ribu dan kuletakkan di rak dekat ranjang, di antara serakan bungkus-bungkus alat kontrasepsi.


“Ikut aku!” sergah pria itu lagi.


“Ke mana?” tanyaku tak mengerti. Ia tak menjawab, hanya membalikkan badannya dan berjalan beberapa jarak membuka pintu gubug.


Seperti terhipnotis aku mengikutinya, penuh rasa takut dan segan menolak, bahkan aku tak berani menanyakan siapa dirinya, apa keperluannya, bagaimana dia bisa masuk ke gubug yang kukunci, dan mengapa aku bisa begitu menurut padanya?


Tiba-tiba terlintas di benakku, apakah ini penggerebekan? Dan aku akan dipenjara atau dihakimi massa ramai-ramai? Aku hendak melarikan diri, namun kakiku serasa terpaku, tenggelam di pasir pantai, tak ingin berbelok dan terus berjalan mengiringi langkah pria itu.


Ia meraih sebuah lampu badai yang tergantung di atap teras gubug, lalu kembali melangkah menuju tepi pantai. Kudekap dadaku dengan kedua belah tanganku. Udara pantai malam ini yang teramat dingin membuat dadaku yang tipis seperti ditusuk pedang-pedang pesulap. Dan aku hanya melapisi tubuhku dengan sehelai kemeja. Sempat kupalingkan wajahku menatap gubug tempatku bercinta dengan pelacur tadi, juga jajaran gubug-gubug lain di pangkal pantai yang disewakan penduduk sekitar untuk keperluan serupa. Suasana lengang ini bertolakan dengan sayup hingar suara tawa dan musik dangdut yang masih terdengar di antara kerlip lampu pemukiman penduduk sekitar pantai.


Aku terus melangkah dalam temaram malam di pantai pasir hitam tepian selatan kota ini. Lampu badai di tangan pria itu bergoyang-goyang tertiup angin, sinar redupnya bergerak-gerak menambah suasana mencekam di sekelilingku. Tersaruk-saruk aku berjalan, tersandung akar rumput pantai dan serakan sampah di antara pepasir, tubuhku sedikit merunduk menahan dingin. Tapi pria itu tegak berjalan seolah sama sekali tak terpengaruh oleh kebekuan malam.


Kami terus melangkah hingga tepian. Sebuah perahu kecil milik nelayan terdampar di situ. Tanpa ragu ia menaikinya.


“Naik!” perintahnya. Tanpa sergahan aku menurut, kami duduk berhadapan. Tiba-tiba sebuah ombak besar menepi dan menarik perahu kami ke arah laut. Perahu sedikit oleng, panik aku berpegangan pada sisi perahu, namun pria itu tetap tegak pada duduknya. Seketika laut kembali tenang saat perahu kami sudah cukup jauh dari pantai.


“Dayung!” ucap pria itu. Tak kuasa membantah, aku meraih dayung di dasar perahu. Angin membawa aroma asin basah air laut. Keheningan malam hanya terpecah oleh suara percikan air yang memukul dinding perahu. Kini yang ada di sekelilingku hanya air yang beriak-riak menggoyang perahu, suara desir angin, dan ombak di tengah lautan. Awan hitam mendung berarak bergelayut di langit biru pekat.


“Kita ke mana?” tanyaku tak mengerti, seraya canggung mendorong dayung yang belum pernah kulakukan sebelumnya. Lagi-lagi pria itu tak menjawab, matanya hanya terus menatap mataku. Aku bergidik membalasnya. Begitu keras dan tegas pandangan itu, seperti seseorang yang memandang mahluk menjijikkan yang sangat dibencinya dengan penuh amarah. Api lampu yang bergoyang sesekali menyinari wajahnya, menampakkan kerutan keriput di dahi, mata, dan gelambir pipi kurusnya. Sejumput janggut abu-abu keperakan tampak di dagunya yang kecil.


Aku terus mengayuh hingga jauh, hingga kerlipan lampu penduduk dan gubug-gubug pangkal pantai tak lagi tampak. Laut tenang, tak ada lagi desiran angin, tak ada lagi suara ombak, perahu kami terombang-ambing oleh riak air. Aku berhenti mendayung, tanganku sudah terlalu lelah, kupijat-pijat otot lenganku yang menegang.


“Sekarang apa? Kau ingin aku melakukan apalagi?” tanyaku mulai meluapkan rasa marah.


“Kau sudah membawaku ke tengah lautan seperti ini, dan entah bagaimana aku tahu arah, entah apa bisa aku kembali pulang nanti. Apa maumu? Mengapa kau mengajakku kemari? Kau ingin merampokku? Kalau kau ingin merampokku mengapa tidak kau lakukan saja sedari tadi? Atau kau juga ingin membunuhku? Menenggelamkanku di tengah laut? Siapa kau ini?” kemarahanku sudah tercekat di leher, siap kumuntahkan.


“Ini adalah pengadilanmu, manusia. Peradilan atas kesia-siaan yang kau bawa dalam hidupmu,” jawabnya angkuh. Clak!! Kupukul air laut dan kuarahkan ke mukanya. Ia tak bergeming, hanya sorot matanya yang semakin memarah.


Tiba-tiba air kembali beriak, semakin lama semakin kencang, hingga kupikir badai tiba-tiba datang. Angin bertiup kencang membawa titik-titik air asin, dan perahu kami oleng. Hampir saja perahu ini terbalik. Aku berpegangan erat, aku kembali panik.


“Tolong! Tolong!”


“Diam kau, manusia!! Sikapmu itu membuat alam pun marah padamu,” ujarnya dingin. Perlahan laut kembali tenang, angin tak berhembus, perahu seimbang. Tubuhku kaku, berusaha menahan diri dengan mengatur napasku naik turun, mengikuti irama detak jantungku yang berdegup kencang.


“Kau sendirian sekarang, jangan berbuat macam-macam. Aku adalah jaksa, kau adalah terdakwa, alam adalah jurinya, dan Allah hakimnya. Bila kau celaka, tak ada yang akan menolongmu,” ujarnya.


Aku terpaku, mencerna kalimat barusan. Aku memang bukan orang sini, aku tak akan bisa berbuat apa-apa bila terjadi kecelakaan dengan perahu ini. Apa dia orang kampung yang gila, terlepas dari pasungan, dan sekarang mengajakku bermain pura-pura?


“Pengadilan apa? Kau sinting ya?”


“Sebagai terdakwa kau telah bersikap tidak sopan dalam pengadilan. Sikapmu itu bisa memberatkan hukumanmu.”


“Hahaha, benar kau ini orang sinting, edan! Aku tadi sudah ketakutan setengah urip!” napasku menurun lega. Tapi ekspresi wajah pria itu tidak juga berubah. “Tapi aku heran kok bisa aku menurutimu hingga jauh ke tengah lautan seperti ini.”


“Akhirnya kau sadar juga kalau kau berada di tengah lautan, jauh dari pantai. Dan kau sangat bergantung padaku, karena tak ada yang bisa menolongmu selain aku. Dan sikap tidak sopanmu itu membuatku enggan menolongmu.” Sesaat hening. Aku terdiam, tapi senyum simpul muncul di sudut bibiku.


“Sombong kau! Kau kira kau penguasa di laut ini ya? Tidak apa-apa. Kuturuti maumu main pengadilan-pengadilanan,” ujarku seperti sedang berbicara dengan seorang anak kecil. “Seorang kakek tua renta berani mengadiliku, bersikap seakan-akan kau bisa menguasai aku. Bisa saja orang-orang kampung yang tengah mencari ikan akan menemukanku. Aku tinggal berteriak ‘Rampok!’ mereka pasti akan menyelamatkanku. Dan memukulimu habis-habisan. Iya kan?” jawabku mulai seraya tertawa kecil.


“Aku memang tengah menguasaimu. Selain aku siapa yang bisa menolongmu? Tak akan ada yang peduli padamu,” ejeknya.


“Hai, semua orang peduli padaku. Siapa yang tak peduli pada orang kaya seperti aku? Semua orang peduli padaku.”


“Bila kau mati, semua orang akan berpesta pora dengan hartamu, membeli pakaian mewah dan makanan mahal dengan uangmu, mengadakan pesta di pabrikmu, memanggil orkes musik, berjoget semalam suntuk, merayakan kematianmu, bersenang-senang atas perginya majikan yang serakah, yang memakan harta pekerjanya, dan keji pada nasib pegawainya.”


“Tidak mungkeeeen! Mereka orang yang setia,” jawabku yakin.


Namun aku kembali terdiam, ada ragu menelusup relung hatiku, sungguhkah mereka setia? Sekilas pria itu tersenyum sinis , seperti bisa membaca apa yang terlintas di benakku.


“Tapi kalau mereka menghianatiku, istriku akan menuntut mereka. Istriku yang setia…,”


“Ya, istrimu yang setia, yang selalu menurutimu, dan kau perlakukan tak lebih dari budakmu. Yang kau dekati saat kau membutuhkannya, dan kau tinggalkan saat kau sadar istrimu tak lagi secantik dulu. Yang kecantikan wajahnya memudar termakan usia. Yang tubuhnya tak lagi seperti dulu karna menampung janin anak-anakmu. Yang kau hianati dengan wanita-wanita lain yang harga dirinya jauh dibawah kemuliaan istrimu. Akankah ia masih peduli padamu setelah kau tak peduli padanya?”


Aku menelan ludah, sungguhkah? Istriku setia, aku tahu itu. Aku yakin atas kesetiaannya yang sudah terbukti selama sekian tahun hidup bersamaku.


Dan setelah sekian tahun pula kuhianati, akankah ia masih setia? Ia yang sakit fisiknya? Ia yang sakit hatinya?


“Anak-anakku yang akan membelaku, membela ayahnya,” sahutku membela diri.


“Anakmu? Akankah anakmu peduli padamu? Pada ayahnya yang tak pernah memberi perhatian dan kasih sayang, ayah yang selalu bermain tangan atas kesalahan mereka, yang terlalu sering menyakiti ibu mereka di depan mata mereka sendiri. Mungkin mereka sudah sedari dulu berharap kau dipenjara, pergi jauh dari rumah, atau bahkan mungkin mereka berharap kau mati dan tak muncul lagi di tengah mereka.”


“Aku keberatan!”


“Keberatan ditolak.”


“Siapa kau ini sebenarnya? Ayo ngaku! Kalau nggak aku hantam kepalamu!” aku berdiri seraya mengacungkan dayung di atas kepalaku. Kutantang matanya. Tapi ada bayangan gelap di wajah orang ini, bayangan gelap yang membuatku merinding dan tidak berdaya. Seperti mendadak lemas, lenganku kuturunkan dan lututku kembali menekuk untuk kemudian aku duduk lagi di atas perahu. Aku jadi ragu, benarkah dia orang gila? Sepertinya orang gila tidak mungkin memiliki bahasa seperti tadi dan mengetahui semua rahasia terdalamku? Siapa dia sebenarnya? Setan yang ingin mencelakakanku? Atau malaikat maut yang akan menghukumku? Atau dewa laut yang meminta tumbal malam ini? Aku terdiam. Rasa kalut mulai melesuki benakku.


“Ah, aku masih punya Ibu,” belaku dengan suara bergetar. “Ibu akan membelaku dengan kasih sayangnya,” jawabku.


“Ya, ibumu yang penuh perhatian membuaimu dalam dekapannya, yang menyayangimu sepenuh hatinya, mendidikmu untuk menjadi pria yang soleh, yang mengajarkanmu arti kejujuran, namun kau sia-siakan. Yang kau tinggalkan dengan hardikan atas rentanya yang bagimu sangat merepotkan, yang kau serahkan pada pembantumu untuk mengasuhnya, tapi kemudian kau dekati saat kau membutuhkannya?”


Ubun-ubunku memanas, “Bohong! Kau menghasutku! Kau menghinaku! Aku tak sehina itu!” Perahu oleng oleh kemarahanku. Tiba-tiba angin kembali berhembus, semakin kencang, laut kembali beriak, dan perahu semakin tak terkendali.


“Tolong… tolong tenangkan laut ini…!” aku panik.


“Yang dapat menenangkannya adalah jiwamu sendiri, manusia,” jawab pria tua itu. Aku berusaha menenangkan diri, mengatur napas, dan laut pun perlahan kembali tenang.


“OK, mungkin mereka tak bisa menolongku. Tapi ada satu yang pasti akan menolongku. Tuhan. Tuhan akan menolongku,” jawabku diantara engahan napas beratku.


“Ha…ha…ha…ha…!!!” pria itu tiba-tiba terkekeh panjang, tawanya tak henti, menertawakan jawabanku barusan. Wajahku menegang, tersinggung oleh sikapnya. Tanganku bersiap hendak meraih dayung di bawah kakiku. Namun tiba-tiba terdengar suara tawa yang lain, perlahan, lalu semakin lama semakin jelas. Lalu muncul lagi tawa yang lain, lalu ada lagi, dan ada lagi, seperti berjuta-juta mahluk menertawakanku.


“Dengarlah, alam pun menertawakanmu,” ujarnya di tengah gelak tawanya. “Laut, angin, bintang, bulan, bahkan perahu dan dayung ini pun menertawakanmu”.


“Bohong, kau bohong!”


“Kau tak percaya? Lihatlah alam, tataplah langit, dan pasang telingamu baik-baik!” ia masih terus tertawa. Dahiku berlipat kerut. Kutatap langit yang hitam, lama kelamaan muncul titik-titik sinar bintang, dan bulan pun mulai terlihat sabit. Semakin lama bintang-bintang itu semakin mendekat dan terlihat sangat besar, bulan pun membulat dan seakan turun ke bumi. Bintang-bintang itu semakin jelas permukaannya, seperti berjuta bintang hendak menghantam permukaan laut, bulan pun semakin mendekat. Semua menyeringai, dengan wajah tertawa mengejekku. Desiran angin dan suara ombak laut terdengar seperti suara kekehan tawa yang tiada henti. Api lampu bergerak menunduk-nunduk seperti orang yang tertawa terpingkal-pingkal. Bahkan kakiku terasa bergetar oleh tawa perahu dan dayung yang berderak-derak di atasnya. Semua tertawa, mengejekku, termasuk si tua di hadapanku.


“Diam! Diam kalian semua!!” aku mengamuk di atas perahu. Tiba-tiba semua terdiam, angin berhenti, laut hening, dalam sedetik bintang dan bulan tertarik mundur hingga tak tampak di permukaan langit, pria tua di depanku pun terdiam dengan wajah amarahnya. Sedetik tenang, lalu angin kembali berhembus kencang, laut berombak, dan perahu kembali oleng.


“Ampun, ampun, aku akan mengendalikan emosiku. Kumohon tenanglah, jangan buat aku mati di sini,” aku menghiba, air mata mulai menggenang di pelupuk mataku. Alam kembali tenang. Napasku naik turun, kucoba mengendalikan hatiku yang ketakutan.


“Kau masih ingat Tuhan rupanya?!” tanya pria itu memecah keheningan.


“Kupikir kau sudah melupakanNya.”


“Tidak! Tuhan yang meninggalkanku. Aku yang sekian tahun tersaruk dalam kesengsaraan sama sekali tak Ia pedulikan. Maka aku tinggalkan Ia, dan aku bisa menjadi kaya dengan caraku.”


“Ya, seperti caramu pada istri dan ibumu. Yang kau datangi saat kau membutuhkanNya, yang kau puji saat kau meminta padaNya. Dan kau lupakan saat kau memperoleh apa yang kau mau.”


“Tidak, itu tidak benar. Tuhan tak pernah mendengar doaku.”


“Kau tak pernah sabar, manusia. Kau tak pernah mematuhi peraturan jual beli dengan Tuhanmu. Apa yang pernah kau jual padaNya sebagai penukar segala yang kau minta? Kau terlalu menuntut Tuhanmu membeli barang daganganmu yang sama sekali tak sebanding dengan apa yang kau kehendaki. Kau tak melayani Tuhanmu sebagai raja. Kau tak pernah ikhlas memberi yang terbaik bagi Tuhanmu. Lalu kau berpaling dariNya, dan kini saat kau membutuhkanNya kau memohon-mohon bantuan? Hamba macam apa kau ini?” kalimat-kalimat itu sejurus menusuk hatiku.


“Kapan terakhir kau bersujud memujaNya? Kapan terakhir kau membaca surat-surat suciNya? Kapan terakhir kau bersedekah atas namaNya? Kapan terakhir kau menyayangi mahluk ciptaanNya? Kapan terakhir kau menahan lapar untuk menjalankan perintahNya? Kapan terakhir kau bertasbih menyebut namaNya? Kapan terakhir kau menginjakkan kakimu berkunjung ke rumahNya? Kapan terakhir kau menahan nafsu untukNya? Kapan terakhir kau…” kalimat itu terus-menerus terucap merobek-robek gendang telingaku. Aku tak tahan, aku menutup kedua telinga dengan tanganku.


“Hentikan! Hentikan!” tapi pria itu tak berhenti berbicara, ia terus menghujatku, membuka segala tabir kebusukanku, mengorek berjuta kesalahanku, menghujam… menghujam hingga menyesakkan.


“Diaaaam…!” aku berteriak sekencangnya. Pria itu terdiam. Matanya tajam menatapku yang masih terengah seraya menutup kedua telingaku.


“Kau hanya mahluk busuk yang tak berguna, yang menghabiskan waktumu untuk berhura-hura. Tak ada gunanya kau hidup lagi, selain hanya untuk semakin menambah tumpukan dosa-dosamu. Namun bila Allah masih menyelamatkanmu kali ini, berarti Ia masih memberimu kesempatan sekali lagi, walau pun bagiku akan lebih baik bila Ia mencabut nyawamu sekarang juga,” ujar pria itu. Suaranya dalam menekan jiwaku. Aku terdiam tak mampu berbicara apa pun. Lalu pria itu memejamkan matanya. Mulutnya perlahan mengucap tahlil, terus mengucap tahlil,


“Laa ilaaha illallah… laa ilaaha illallah…”


Sesaat kemudian angin mulai berhembus perlahan, dan air laut kembali beriak. Aku menyapukan pandangku ke sekeliling. Kupasang mata dan telingaku, suara hembusan angin dan riak air laut itu seperti juga mengucap tahlil. Lalu datang lagi suara dari arah langit, aku menengadah. Perlahan-lahan bintang dan bulan kembali muncul. Mereka pun bersama-sama mengucap tahlil, perlahan, dalam, dan hidmat.


“Laa ilaaha illallah… laa ilaala illallah… laa ilaaha illallah….” Bulu kudukku meremang, tubuhku kaku mendengar lantunan tahlil alam. Lalu suara-suara itu semakin lama semakin keras, seiring hembusan angin dan riakan air laut yang juga semakin kencang. Bulan dan bintang-bintang kembali mendekat, semakin tampak besar dan bergerak ke arah perahuku. Aku ketakutan. Angin berhembus semakin kencang, perahu mulai oleng. Lalu api lampu badai mati, dan hanya tersisa gelap di sekelilingku. Tanganku bergerak kesana-kemari mencoba mencari pria tua di depanku. Tapi tanganku tak menemukan apa pun, ruang di depanku kosong. Aku sendiri di perahu ini, betul-betul sendiri. Aku panik, kedua tanganku berpegang erat pada sisi perahu.


“Tolong… tolong… aku tak mau mati sekarang… tolooong…!!!!” aku berteriak sekencangnya, tapi tak ada siapa pun yang bisa mendengarku, aku terlalu jauh dari pantai. Aku semakin panik. Bulan dan bintang-bintang semakin mendekat, lalu satu persatu mereka jatuh ke laut, menimbulkan guncangan yang luar biasa hebatnya. Angin berhembus kian kencang, air laut semakin berombak, perahu semakin oleng, dan hujan bintang semakin deras menimpa air di sekitarku. Aku melindungi tubuhku dengan kedua tanganku, kilatan-kilatan cahaya bintang menyilaukan mataku, membutakan pandanganku.


Ombak semakin besar, dan perahu tak lagi terkendali. Perahu terbalik dan jatuh ke laut. Aku berusaha menggapainya, berpegang pada punggung perahu yang terapung. Tapi bintang-bintang terus jatuh, dan laut mulai terbakar oleh apinya. Air mulai terasa panas, kegelapan semakin benderang oleh nyala api di permukaan air laut. Tak ada gunanya teriakanku, tak ada seorang pun. Bumi kiamat, bumi kiamat! Hanya itu yang ada di benakku. Kucoba mengucap nama Tuhanku, tapi aku tak bisa, aku lupa bagaimana cara mengucapkannya. Aku hanya panik seorang diri.


Bintang-bintang semakin berguguran. Laut berombak tinggi, membawa air berapi ke ketinggian ratusan meter. Perahuku sudah hampir hangus, tubuhku pun mulai terjilat api. Bulan semakin dekat, semakin dekat, semakin tampak besar, dan seketika bulan terjun ke laut, menghantam permukaan air dan menciptakan ombak yang sangat besar. Aku tak punya kesempatan menghindar, dan aku hilang dalam arus air laut berapi, ke kedalaman tak bertepi.


Kukerjapkan mataku tak percaya, tubuhku tergolek di tepi pantai. Pakaianku tak lagi berupa, tubuhku penuh luka bakar dan memar. Aku mencoba mengerakkan tubuhku, uh!! Aku tak sanggup. Aku hanya tergolek tak berdaya. Hari masih sangat pagi, pantai masih sepi, nelayan belum kembali. Aku masih sendiri di sini menanti siapa pun yang akan menemukanku nanti. Tergeletak kaku terkotori pasir dan serakan sampah. Hari masih sangat pagi, dan matahari mulai bersinar di ufuk timur, menyiratkan cahaya hangatnya ke tubuhku. Langit mulai membiru di hiasi corehan merah kekuningan. Dan aku masih tergeletak seperti bangkai…