11 Jan 2008

SEPULUH KUPU-KUPU

“Selamat sore, Mike. Bagaimana kabar anakmu?” tuan Will, pemilik kios sayur menyapa Michael yang melintasi tokonya.

“Anakku? Yang mana? Aku tidak punya anak,” ujar Mike sambil lalu. Ia bersendawa keras, bau alkohol melayang di sekitar wajahnya yang kusam. Ia melangkah sempoyongan dan menabrak keranjang kentang di depannya.

“Tampaknya kau sedang sial hari ini.”


“Aku selalu sial, apalagi sejak aku tinggal dengan anak cacat yang tidak berguna itu. Ia hanya memperlengkap kesialanku,” Mike mengacak rambut keritingnya yang kusut dan berketombe. Tuan Will tidak melanjutkan percakapannya, ia lebih memilih diam. Ia tak ingin Mike lebih lama ada di dekat tokonya. Bisa-bisa sebentar lagi dia akan muntah di keranjang sayuran, atau yang lebih parah lagi dia akan mulai mengamuk dan menghancurkan segalanya.


Michael dikenal sebagai salah satu warga tidak berguna di desa mereka. Seorang pengangguran yang kerjanya hanya mabuk dan judi dari uang hasil rampasan atau rampokan. Ia memiliki seorang anak tiri, Jhony, anak istrinya. Baru tiga bulan ia menikah dengan Suzane, Suzane sudah lari meninggalkan rumah, meninggalkan anak kandung dan suami barunya. Ia lebih memilih pria lain yang menurutnya sungguh-sungguh mencintainya dari pada hidup bersama Mike yang memukulinya dan Jhony setiap hari.
Dan rasa sakit hati Suzane itu dilampiaskan pada anak satu-satunya yang ia dapatkan dari seorang pria mabuk yang tidak dikenalnya, yang baru sekali ia temui di sebuah klab malam dan tidak pernah ditemuinya lagi setelah itu. Ia memang membenci anak itu, karena baginya anak itu adalah kutukan, seorang anak yang tuli dan bisu, anak yang sama sekali tidak ia harapkan.

Seperginya Suzane, Jhony yang baru berusia 10 tahun tinggal bersama Mike di rumah tua mereka. Jhony, yang dulu, sebelum ada Mike, berusaha untuk mempertahankan hidupnya dengan caranya sendiri, sejak tiga bulan lalu harus pula melayani ayah tirinya, memenuhi kebutuhan perutnya yang seperti tidak pernah kenyang. Setiap hari Jhony bangun ketika ayam jantan dan domba-domba pun masih mendengkur. Ia mulai membersihkan rumah, mengambil air dari sumur untuk mandi dan minum kemudian mencuci pakaiannya yang sedikit dengan mesin cuci tua yang telah berkarat dan tidak berfungsi mesin pengeringnya. Seminggu sekali ia mencuci sweater biru mudanya yang warnanya sudah mulai pudar.


Jhony tidak pernah mengganti sweaternya, itu satu-satunya pakaian hangat yang ia miliki. Dengan kamar yang lembab dan dingin sweater biru muda itu hampir tak pernah lepas dari tubuhnya, bahkan serasa lengket seperti kulitnya sendiri. Dan ketika sweater itu harus ia cuci, ia melepasnya dan menunggu mesin cuci menggiling sweaternya di ruang cuci di bawah tanah. Setelah dicuci ia harus memeras sweater itu sekuat tenaga untuk kemudian ia kenakan lagi.
Lalu ia akan memangkas rumput di bawah sinar matahari yang rabun sekaligus mengeringkan sweater biru mudanya.

Saat senja datang Jhony keluar rumah. Ia mengunjungi beberapa toko untuk mengambil secara cuma-cuma sisa-sisa dagangan yang tidak terjual. Kubis dan brokoli yang layu, kentang dan wortel yang mulai membusuk, roti yang mulai berjamur dan dijadikan roti bakar untuk menghilangkan jamurnya. Kalau sedang beruntung ia diberi sisa-sisa kaki ayam yang tidak terbeli yang warnanya mulai menguning atau jeroan ayam yang hendak dibuang. Bila ia tidak mendapatkan di satu toko maka ia akan mencari di toko lain, hingga semua yang ia dapatkan dirasa cukup.


Ia beruntung memiliki tetangga yang sangat baik, walau pun mereka sangat jarang memberikan barang-barang bagus secara cuma-cuma. Tapi sisa-sisa bahan makanan itu sudah lebih dari cukup baginya. Para tetangga merasa kasihan melihat keadaan Jhony. Tapi mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Selain karena urusan mereka sendiri yang sudah sangat rumit, mereka juga tidak berani ambil resiko dengan mencampuri kehidupan pribadi Mike. Bahkan mereka tidak berani mengadukan Mike pada dinas sosial perlindungan anak. Walau pun Mike sangat membenci anak tirinya, bahkan lebih menganggapnya sebagai pembantu dari pada seorang anak, tapi ia tidak akan melepaskan anak itu dari cengkramannya. Karena tanpa anak itu dia tidak bisa mengurus diriya sendiri.


Sesampainya di rumah Jhony memasak semua itu untuk makan malamnya dan ayah tirinya bila ia pulang. Keesokan hari ia memanaskan kembali sisa-sisa masakan kemarin untuk sarapan dan makan siang. Kadang-kadang ia mendapat beberapa buah jeruk layu yang dapat ia peras sisa-sisa airnya. Untungnya ia belum bosan merasakan hari-harinya yang monoton, sendiri, tanpa Ibu atau pun saudara. Sementara dengan Mike, Jhony lebih suka hidup sendiri karena itu akan lebih baik baginya. Tak jarang Mike memukuli Jhony untuk berbagai alasan yang lebih sering tak masuk akal.


Mike menemukan kamarnya dalam keadaan rapi. Ia memanggil Jhony dengan panggilan kasar yang selalu ia teriakkan,


“Anak sial! Kemari kau!” walau pun ia tahu teriakannya itu percuma karena Jhony tidak akan mendengar suaranya tapi ia terus saja mengomel sambil melangkahkan kakinya di tangga.


“Aku sudah berkata berulangkali jangan masuk ke kamarku. Kau akan mencuri pakaianku dan barang-barangku. Kau kira aku tak tahu hal itu?” Maka ia segera naik ke loteng, ke kamar Jhony dan menemukannya melingkar kedinginan di kasurnya yang tipis dan kumal berkutu. Mike menarik selimutnya yang berdebu kemudian tanpa berkata apa-apa ia memukul Jhony bertubi-tubi.


Selalu begitu setiap kali ia menganggap Jhony melakukan kesalahan. Ia memukulinya, kadang dengan sumpah serapah untuk meluapkan amarahnya, kadang tanpa berbicara karena ia menganggap percuma berbicara pada seorang anak tuli yang tidak akan mendengar ucapannya. Dan Jhony selalu terisak kesakitan tanpa ia pernah mengerti apa kesalahannya.


Mike meninggalkan Jhony meringkuk di bawah jendela kamarnya. Isaknya hampir tak terdengar, hidung dan telinganya berdarah, ingusnya keluar bercampur dengan darah. Diusapnya dengan ujung lengan sweater biru mudanya. Ia segera bangun dan beranjak turun. Ia tahu ia harus menyiapkan makan untuk ayah tirinya, kalau tidak sebentar lagi pukulan semacam tadi akan terulang.


Mike sedang lekat menatap televisi yang menyiarkan acara murahan, volumenya terdengar sangat keras sehingga ia tidak menyadari kedatangan Jhony. Jhony tidak peduli, itu lebih baik daripada Mike mengganggunya. Jhony memeras jeruk layu dan memanaskan sup kubis yang ia buat kemarin sore. Dihidangkannya di depan Mike dan segera berlalu sebelum Mike bertingkah macam-macam dan menemukan alasan baru untuk menyiksanya lagi. Mike mengambil piring sup dan menyantapnya seperti seekor babi yang kelaparan. Sebenarnya ia tidak suka sari jeruk, ia lebih suka alkohol. Tapi mereka tidak punya uang untuk membeli minuman keras bahkan sekedar membeli beberapa batang rokok, maka Mike meminumnya saja daripada ia kehausan.


Setelah makanan habis ia tertidur pulas di sofa dengan tubuhnya yang bau. Terkadang ia muntah di sofa dan lantai kemudian meninggalkan bekas muntahan dan beranjak tidur di kamar. Biasanya tengah malam nanti Mike akan terbangun dan pergi lagi.


Jhony menelekan sikunya di tepi jendela. Sakit sisa pukulan tadi sudah tidak ia rasakan lagi. Matanya menerawang menatap pohon di bawah jendelanya. Batangnya besar dengan dahan-dahan yang becabang ke segala arah, membuat daerah di bawahnya rindang dan dingin. Salah satu dahan pohon masuk melalui jendela. Jhony sengaja hanya menutup satu sisi jendela, ia tak ingin merusak bagian pohon itu.


Saat musim semi seperti ini beberapa bunga kecil berwarna kuning kehijauan akan tumbuh di dahan itu. Dan sepuluh ulat-ulat kecil baru saja menghabiskan daun segarnya. Ulat-ulat itu berwarna kemerahan dan bersinar di malam hari. Setiap malam titik-titik sinar yang dipancarkan tubuh ulat-ulat kecil itu menemani Jhony. Jhony selalu terisak di dekat jendela, seakan-akan ia berbicara dengan ulat-ulat itu dengan hatinya. Ia merasa ada kedekatan tertentu dengan mereka yang tidak bisa dijelaskan dengan logika. Sejak beberapa hari yang lalu ulat-ulat itu telah menggulung tubuhnya kekenyangan dan bertapa di dalam kepompongnya yang bergantungan. Dan jhony sangat menantikan seperti apa kupu-kupu ulat itu nantinya. Jhony menghitung dalam hati jumlah kepompong itu,


“Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan, sembilan, sepuluh.” Sepuluh kepompong, belum berkurang. Sejak awal kehadiran ulat-ulat kecil itu Jhony menghitung jumlahnya. Ia tak ingin kehilangan satu pun dari mereka.


Jhony mendekatkan wajahnya ke salah satu kepompong, tampaknya kepompong itu mulai terbuka kulitnya. Seleret sayap tipis keluar dari retakan kepompong. Jhony belum bisa melihat secara jelas seperti apa kupu-kupu itu. Tampaknya warnanya muda dan mungkin seekor kupu-kupu yang cantik. Jhony ingin menunggu seluruh proses kelahiran kupu-kupu itu, namun matanya sudah terlalu lelah dan sisa-sisa sakit di tubuhnya membuat Jhony merasa ingin merebahkan diri lagi. Matahari mulai sembunyi, sinar merah keemasan tersisa di tepi dinding kamar menandakan tak lama lagi dunia akan kehilangan terangnya.


Tengah malam Jhony terbangun, ia merasa ada sesuatu yang menggelitik telinganya. Jhony mengerjapkan matanya mencari sedikit sinar bulan yang menembus kamar. Ia melihat sebuah sinar kecil benderang berputar-putar di dekat kepalanya. Jhony mengusap matanya, dan tampak jelas baginya sinar apa itu.


Seekor kupu-kupu memancarkan cahaya berwarna merah muda lembut terbang mengepakkan sayapnya, sinarnya bergerak-gerak kemudian ia mendarat di tepi ranjang. Kupu-kupu itu mengepakkan sayapnya beberapa kali kemudian terdiam dengan sayap tertutup ke arah atas.Jhony menyentuh kupu-kupu itu dengan ujung jari telunjuknya. Benar, itu kupu-kupu. Ia dapat merasakan serbuk halus menempel di jari. kupu-kupu yang sangat indah. Warnanya merah muda, tubuhnya bening seperti kaca, tapi lembut seperti kapas, dan sinar yang memancar itu membuatnya terlihat semakin cantik.
Jhony menatap lekat kepala kupu bening itu. Ia berpikir mungkin itu seorang peri seperti dalam dongeng dan berharap akan menemukan seraut wajah manusia mungil yang cantik seperti putri. Tapi tidak, itu memang kupu-kupu. Tubuh dan wajahnya sama seperti kupu-kupu, hanya saja bening dan bersinar. Mata Jhony tidak mengantuk lagi, ia terjaga, betul-betul terjaga. Seakan ia lupa dengan seluruh rasa letih dan sakit pada tubuhnya. Semalaman itu Jhony tidak lagi tidur, ia asyik bermain-main dengan kupu bening hingga pagi.

Ketika matahari kembali bersinar Jhony memulai aktifitas rutinnya. Kupu bening terbang mengikutinya ke mana pun ia pergi. Tubuhnya yang bening semakin indah tertimpa sinar mentari. Walau pun kupu bening tidak tampak bersinar di siang hari, tapi ia masih tetap cantik. Pantulan cahaya matahari berwarna merah muda berkelap-kelip di wajah Jhony setiap kali kupu bening itu mengitarinya. Jhony merasa lebih bersemangat hari itu.
Seperti biasa Mike sudah tidak ada di rumah. Jhony tidak perlu menunggu kapan Mike pulang, karena memang tidak pernah pasti kapan ayah tirinya itu pulang. Kemudian membersihkan seluruh bagian rumah, ia mencuci semua piring, mencuci pakaian dan sweater biru mudanya yang terkena noda darah kemarin, lalu bermain di halaman sambil mengeringkan sweater kesayangannya itu. Ia berlari-lari mengejar kupu bening, sesekali kupu bening itu berhenti pada sebuah bunga dan Jhony menunggu sambil memperhatikan kupu bening itu menghisap sari bunga. Setiap orang yang lewat, maka ia akan berhenti dan memperhatikan kupu bening itu dari depan pagar.

“Cantik sekali kupu-kupu itu, Jhony. Itu milikmu?” Jhony hanya tersenyum, ia tidak mendengar apa yang diucapkan orang-orang itu, tapi ia mengerti pasti mereka mengagumi dan memuji kupu beningnya.


“Boleh aku mendekatinya?” beberapa orang bahkan ingin melihatnya dari dekat, kemudian menyentuh sayapnya dan membuat kupu bening itu terbang lagi ke belakang punggung Jhony seakan meminta perlindungan. Jhony merasa sangat bahagia.
Biasanya tidak banyak orang yang menyapa Jhony walau pun mereka lewat di depan rumah setiap hari. Tapi kupu bening itu telah menarik perhatian mereka. Bahkan ketika sore harinya Jhony berjalan ke toko-toko untuk meminta sisa-sisa bahan makanan, Jhony mendapatkan reaksi yang tidak biasa. Ketika ia mengunjungi toko tuan Will, istri tuan Will terpana melihat kupu bening yang berputar di dekat pundak Jhony,

“Oh, lihat kupu-kupu itu. Cantik sekali. Darimana kau mendapatkannya, Jhony? Bagaimana bisa ia begitu jinak padamu seperti seekor anjing pada pemiliknya.” Tuan Will dan istrinya mendekati kupu bening. Tuan Will membetulkan letak kaca matanya dan membungkuk di depan Jhony.


“Lihat Will, cantik sekali bukan? Sayapnya bening, seperti kaca,” ujar istri tuan Will lagi.


“Spertinya ini bukan kupu-kupu biasa,” tuan Will menepuk pundak Jhony dan tersenyum ramah. Jhony membalas senyumnya. Kemudian ia mengangguk meminta ijin untuk mengambil sayur seperti biasa. Ia beranjak ke belakang toko mendekati keranjang yang hampir kosong, hanya tersisa beberapa ikat sawi putih dan kentang-kentang kecil masih berwarna hijau. Jhony memasukkan ke dalam kantung kertas yang ia bawa. Lalu ia kembali ke depan untuk berpamitan dan mengucapkan terima kasih.


“Jhony, bawalah ini,” istri tuan Will menyerahkan sebuah bungkusan plastik. Jhony menyentuh plastik itu perlahan untuk mengenali isinya tanpa harus membuka ikatannya.


“Beberapa butir telur,” ujar tuan Will,


“Anggap saja sebagai hadiah.” Wajah Jhony berbinar senang. Ia membungkuk beberapa kali tanda bahwa ia sangat berterima kasih. Ia hampir tidak pernah mendapat telur, karena biasanya telur habis terjual, lagi pula telur yang busuk tidak mungkin bisa dimakan lagi.
Jhony keluar toko tuan Will dengan wajah berseri-seri. Ia merasa dengan mendapatkan telur itu yang diperolehnya sudah cukup. Ia bisa membuat sup dari sayur itu dan menggoreng telur. Jhony hendak melangkah pulang, tapi entah mengapa hatinya merasa ingin berjalan-jalan sejenak. Maka ia memilih jalan pulang memutar dengan melalui jembatan kecil dan peternakan sapi milik Zamar, anak desa seusianya. Ketika Jhony melewati peternakan Zamar ia melihat Zamar di depan rumahnya sedang duduk di atas tempat memotong kayu bakar. Tuan Amri, ayah Zamar berada di antara sapi-sapinya yang digembalakan di samping rumah. Zamar melambai pada Jhony dan berlari mendekatinya.

“Hai Jhony, dari kejauhan tadi aku melihat sesuatu melayang-layang memantulkan cahaya di atas kepalamu. Apa itu? Kunang-kunang kah?” tanya Zamar. Jhony mengerti Zamar tertarik pada kupu beningnya. Maka ia meletakkan telunjuknya di dekat kupu bening itu, dan kupu bening itu seperti mengerti ia hinggap di telunjuk Jhony. Jhony menyorongkannya ke dekat wajah Zamar.


“Wah, seekor kupu-kupu, kupu-kupu yang cantik seperti terbuat dari kaca. Ayah, coba lihat ini! Ayah!” Zamar berteriak memanggil ayahnya. Tuan Amri berjalan mendekat.


“Mahluk apa ini?” tanya tuan Amri.


“Kupu-kupu Ayah. Indah sekali kan? Seperti kaca.” Jhony tersenyum bangga, semua orang menyukai kupu beningnya.


“Wah Jhony, sepertinya ini bukan kupu-kupu biasa, mungkin ia turun dari surga. Kupu-kupu yang terindah yang pernah aku lihat,” tuan Amri dan Zamar tertegun melihat kupu bening itu. Tapi Jhony harus segera pulang, sebentar lagi matahari akan tenggelam. Maka ia berpamitan pada tuan Amri dan Zamar.


“Hai tunggu dulu, aku punya sedikit susu untukmu. Tunggu di sini,” tuan Amri berlari menuju ke kandang sapinya.


“Sejak kemarin kami panen besar. Kau tahu, sapi-sapi kami menghasilkan susu yang banyak sekali. Ayahku mendapat uang yang banyak dari penjualan susu-susu itu. Sepertinya saat ini saat terbaik dalam tahun ini. Dan ayahku tidak akan keberatan kalau kau membawanya sedikit,” ujar Zamar sambil memasukkan kedua tangannya ke kantung. Tak lama tuan Amri muncul membawa dua botol susu.


“Bawalah ini. Tapi semoga saja ayahmu tidak menghabiskan untuk dirinya sendiri.” Jhony sangat berterima kasih pada pemberian mereka. Ia menganggukkan kepalanya berulang kali dan bergumam dengan lidahnya yang kelu.


“Ya, sama-sama. Semoga harimu beruntung,” jawab tuan Amri.
Jhony menjinjing kantung sayur dan telur di tangan kirinya serta dua botol susu ditempelkan ke dada dengan tangan kanannya. Ia merasa sangat beruntung hari ini. Semua orang ramah padanya, menyapa ketika lewat, dan memberi sangat banyak barang secara cuma-cuma. Jhony tersenyum pada kupu bening yang bertengger di bahu kanannya. Dalam hati ia mengucapkan terima kasih, mungkin kupu bening adalah alasan semua kejadian menguntungkan hari ini.

Ia memasak telur dan sayur untuk berpesta sendiri di rumahnya, tanpa ayah tirinya yang jahat dengan semua makanan enak yang terhidang hari ini. Sementara kupu bening terbang berputar-putar mengelilinginya. Namun belum juga ia makan malam, tiba-tiba pintunya diketuk. Sepertinya ada tamu, karena itu pasti bukan Mike. Mike tidak akan mengetuk pintu bila datang. Jhony tidak mengerti, sebelumnya tidak pernah ada orang yang berkunjung ke rumahnya. Ketika Ia membuka pintu ternyata nyonya Arin dan putrinya yang sudah remaja, Eva. Jhony menatap mereka tanpa mempersilahkan masuk, ia hanya sedikit membuka pintu.


“Selamat malam Jhony. Apakah kami mengganggu?” ujar nyonya Arin ramah.


“Kami mendengar dari semua orang bahwa kau memiliki seekor kupu-kupu yang sangat cantik. Katanya seperti kaca berwarna merah muda. Boleh kami melihatnya?” Jhony diam saja, Ia kebingungan. Belum sempat ia memutuskan mempersilahkan atau tidak, ternyata kupu bening terbang ke arah pintu dan memperlihatkan dirinya. Tubuhnya yang bening bercahaya di tengah ruangan yang temaram.


“Oh Tuhan, indah sekali kan Mama?” ujar Eva. Melihat kupu bening menampakkan diri Jhony pun membuka pintu dan mempersilahkan mereka masuk. Ia percaya kupu bening dapat mengetahui siapa yang berniat baik dan siapa yang tidak.


“Kami datang hanya ingin membuktikan perkataan orang-orang. Dan kami baru percaya setelah kami melihatnya sendiri. Lihatlah, betapa eloknya kupu-kupu ini,” Nyonya Arin dan Eva sesaat mengagumi keindahan kupu bening hampir tak percaya. Tak lama kemudian mereka pun berpamitan pulang,


“Sebenarnya kami belum puas melihat kupu-kupu ini, tapi kami mengerti kamu hendak makan malam. Dan kami tidak ingin mengganggumu. Karena itu kami pergi saja sekarang. Oh ya, boleh kan kami melihatnya setiap hari? Rasanya kami tidak akan pernah bosan menatap kupu-kupu ini. Kalau kau mau kau boleh singgah di rumah kami, barangkali kau ingin makan malam bersama kami kapan-kapan?”


“Kami pulang dulu. Dan ini, kami membelikan sedikit apel untukmu,” Eva menyerahkan sebungkus apel berwarna merah muda kehijauan. Apel yang sangat lezat, pasti. Dan seumur hidup Jhony belum pernah makan apel seperti itu.Jhony betul-betul pesta malam ini. Rasanya ia ingin melahap semua makanan dan susu lezat di meja, tapi ia sadar ia tak bisa setiap hari menikmati makanan seperti ini. Maka ia menyimpan sisanya di lemari, berharap besok ia dapat memakan sisanya.


Keesokan pagi Jhony bangun dengan perut keroncongan. Yang pertama ia lakukan adalah menelengkan kepalanya ke atas kepalanya. Ia menarik napas lega, kupu bening ada di situ. Dan itu berarti ia tidak mimpi semalam. Ia langsung teringat pada sisa makan malamnya yang lezat. Ia menjadi sangat bersemangat untuk rutinitasnya, membersihkan rumah, mencuci pakaian, memasak air, dan hal yang paling ditunggu: sarapan. Ketika ia sarapan, terdengar suara pintu depan di buka. Dan dari getaran yang dihasilkan langkah kaki di ruang tamu Jhony bisa mengetahui siapa yang datang: Mike. Tak perlu menunggu lama Mike sudah muncul di hadapannya, dalam keadaan mabuk, bau, dan acak-acakan seperti biasa,


“Hm, makan enak kau rupanya? Mengapa tidak mengundang ayahmu untuk makan malam bersama? Aku hanya minum bir semalam, dan kau makan enak di sini. Lihat ini, susu, telur, apel wow! Betul-betul pesta.” Jhony diam saja melihat Mike merebut piring telur dan meminum susu dari gelasnya.


“Aku sudah dengar semalam. Semua orang membicarakan kau dan peliharaan barumu. Ah, ini dia ya?” Mike menatap kupu bening di bahu Jhony. Tangannya terjulur hendak menyentuhnya. Jhony menyingkir, ia tidak rela Mike menyentuh kupu bening.


“Hei, jangan sombong kau. Baru saja memiliki seekor kupu-kupu kau sudah sombong minta ampun. Bagaimana kalau kau memiliki sebuah kebun binatang?” Mike tertawa terbahak-bahak, ia merasa ucapannya itu sangat lucu. Tiba-tiba Mike mencengkram kerah sweater Jhony,


“Dengarkan aku! Semua orang di bar mengatakan bahwa kupu-kupumu sangat lucu dan siapa pun ingin melihat bahkan memilikinya. Karena itu kau harus memberikannya padaku. Sepertinya ia bisa menghasilkan banyak uang untukku,” Mike menyeringai. Jhony memandang penuh amarah padanya, tapi ia tidak berani melawan.


Mike melompat mulai mengejar kupu bening. Jhony berteriak-teriak mencegahnya, tapi ia tidak mampu. Mike berlari-lari menggapai kupu bening sampai ke loteng. Ia menutup semua pintu dan jendela hingga celah ventilasi untuk mencegah kupu bening kabur. Kupu bening terbang kebingungan, ia tampak ketakutan, seperti apa yang dirasakan Jhony. Mike meraih topi di atas rak dan mengayun-ayunkannya. Ia melompat-lompat hingga menjatuhkan dan memecahkan semua barang. Jhony mulai menangis, ia tidak ingin Mike menangkap kupu bening. Tapi sia-sia, Mike terlalu tinggi dan kuat. Dalam satu gapaian terakhir ia berhasil menangkap kupu bening di dalam topi.


Mike tertawa kegirangan, sementara Jhony semakin menangis meraung-raung. Mike meletakkan kupu bening di dalam toples kaca dan menutupnya rapat. Jhony berusaha merebut toples itu, tapi ia malah terdorong tubuh Mike yang besar.


“Sekarang kau juga harus kukurung, agar kau tidak menganggu kupu-kupuku,” Mike menarik lengan Jhony dan membawanya ke loteng. Tubuh Jhony didorong ke atas ranjang dan menguncinya di dalam kamar. Jhony berlari ke pintu dan berusaha mendobraknya namun ia tidak mampu. Maka ia hanya meringkuk sedih dan menangis di depan pintu kamarnya.


Sementara itu Mike memasang papan di depan pagar bertuliskan “Saksikanlah Kupu-kupu Langka yang Sangat Indah”, dan di sebelahnya ia meletakkan sebuah kotak tempat uang. Tentu saja banyak orang yang ingin melihat kupu-kupu itu secara langsung, karena kabar tentang kupu-kupu bening seperti kaca berwarna merah muda sudah menyebar ke seluruh penjuru kota. Dan mereka tidak keberatan menyerahkan beberapa sen setiap orang atau memberi makanan enak untuk sekedar melepaskan rasa penasaran mereka.


Mike menjaga dengan ketat kupu bening dan ia meminta tolong seorang kawannya untuk menjaga pintu gerbang dan memastikan semua orang memasukkan uang ke kotak. Dan uang hasilnya digunakan Mike untuk berjudi dan mabuk malam harinya.


Jhony tertidur lelah dan lapar malam itu. Ia mengantuk setelah menangis seharian. Tapi tepat ketika subuh masih mendengkur, ia terjaga. Kepalanya terhentak dan terantuk gagang pintu. Ia segera teringat kupu beningnya. Jhony mencoba membuka pintu dan segera ia sadar bahwa percuma saja ia mendobrak pintu itu.

Jhony kemudian memutuskan melakukan segala cara untuk membebaskan kupu bening. Ia keluar lewat jendela dan memanjat turun lewat dahan pohon di jendela. Jhony berlari mengendap-endap ke arah pintu depan. Pintu terkunci. Maka ia mencoba pintu dapur, namun juga terkunci. Jhony mendongak melihat ventilasi dapur yang selalu terbuka sebagai jalan keluar asap dapur. Jhony berusaha memanjat dengan berpijak pada gagang pintu dapur dan berhasil melompat masuk dapur.


Ruangan gelap, tapi ia bisa melihat sinar kupu bening terbang lemah di dalam toples. Pasti ia sekarat kehabisan udara. Mike meletakkan toples itu di atas rak. Perlahan Jhony menggapainya. Namun tiba-tiba lampu menyala dan Mike sudah berdiri di depan pintu.


“Kau pikir aku ceroboh dengan meninggalkan benda berharga itu semalaman?” ujarnya seraya berjalan mendekati Jhony. Jhony mundur namun tangan Mike yang panjang berhasil meraih lengannya dan berusaha merebut toples di tangan Jhony. Jhony mengelak dan berusaha mempertahankan toples itu. Keduanya saling berebut, menarik dan mendorong. Keringat mengucur di seluruh tubuh Jhony yang lebih kecil dan lapar, napasnya mendengus keras dan suaranya mengerang mempertahankan sekuat tenaga.


Namun tiba-tiba PRANG!! Toples itu jatuh ke lantai dan pecah. Keduanya terlonjak. Sedetik kemudian Jhony mulai menangis. Ia mendekati kupu bening dan meraih ke telapak tangannya. Tubuh kupu bening mengeluarkan lendir kuning dari luka terkena pecahan kaca, dan sayapnya yang bercahaya koyak. Sungutnya bergerak-gerak lemah lalu ia terkulai dan tak bergerak lagi. Tiba-tiba sayap bening itu retak sedikit demi sedikit di susul tubuhnya perlahan hancur seperti kapas yang terbakar. Kupu bening berubah menjadi butiran halus seperti debu merah muda bercahaya dan luruh ke lantai. PLAK! Tiba-tiba pipi Jhony terasa panas.


“Kau membunuh kupu-kupuku!” Mike berteriak tepat di depan muka Jhony. Jhony mendorong Mike dengan penuh amarah. Mike semakin naik pitam. Ia kembali menarik Jhony ke kamarnya dan pukulan-pukulan kembali terdengar sepanjang sisa malam hingga ke rumah tetangga mereka. Setelah puas melampiaskan amarahnya, Mike meninggalkan Jhony di kamarnya.


Jhony terkulai lemah di lantai kamar. Darah mengalir dari hidung dan telinganya, wajah dan tubuhnya memar, bahkan sweater biru mudanya yang baru kemarin ia cuci kotor lagi oleh noda darah. Jhony terlalu lemah untuk bangkit bahkan sekedar duduk menatap matahari yang hampir terbit. Sehingga ia tidak menyadari sembilan kupu-kupu merah muda bening seperti kaca bertengger di dekat sembilan kepompong kosong, menunggu hingga sayap mereka cukup kuat untuk terbang. Ketika ruas-ruas putih sinar matahari menembus jendela, Jhony tersadarkan oleh kerlip-kerlip cahaya merah muda menerpa wajahnya.


Mike merasa perutnya keroncongan. Ia memeriksa sisa makanan di dapur yang sudah dingin.


“Anak sial, sudah waktunya kau menyiapkan makanan untukku!” teriak Mike sambil melangkah ke kamar Jhony dan membuka pintunya. Ketika pintu terbuka ia tidak menemukan Jhony di lantai. Mike mencari di bawah selimut juga di kolong tempat tidur dan seluruh sudut kamar, namun sia-sia. Tiba-tiba pandangannya terarah ke jendela kamar dan ia berpikir Jhony melarikan diri lewat jendela. Mike melongokkan kepalanya ke jendela, namun ia tidak juga menemukan Mike. Ia hanya menemukan sepuluh kupu-kupu di ranting pohon yang segera terbang menjauh dan menghilang. Namun Mike sempat melihat warna sepuluh kupu-kupu itu, semuanya bening seperti kaca berwarna merah muda, kecuali yang satu. Ia berwarna biru muda.

Tidak ada komentar: