
“Bolehkah aku menyesal?”
“Apa maksudmu?”
“Aku tahu sebenarnya aku tidak boleh menyesal, sedikit pun. Tapi tak bisa aku pungkiri rasa ini menyelinap di hatiku.”
“Apa yang sebenarnya kamu sesali?”
“Membawa adikku...”
“Membawa adik... ah, rasanya aku tahu ke mana arah pembicaraan ini.”
“Ya, dan memalukan, kan?”
Pria berambut pirang itu hanya menggelengkan kepala perlahan. Pandangannya ia alihkan ke asbak abu-abu yang sudah mulai menghitam di hadapan mereka.
“Apa maksud gelengan kepala itu?”
“Aku mengerti apa yang kamu bicarakan. Tapi aku tidak mengerti kenapa.”
“Sungguh?”
“Sungguh. Memangnya aku pernah berbohong padamu?”
”Tentu saja kamu pernah berbohong padaku. Tidak perlu berlagak sok suci. Dan kamu pikir aku terlalu bodoh untuk menyadari kapan kamu membohongiku?”
Kedua pria baya itu tertawa. Pria berambut pirang itu menghisap rokoknya dalam-dalam, bunyinya gemeretak dan bara merah merambat beberapa mili mendekati bibirnya.
“Kamu menyesal membawa adikmu menjadi muslim, seperti kamu kan?”
Pria berkulit hitam itu mengangguk perlahan sebelum akhirnya sesaat tak ada suara di antara mereka berdua. Hanya sekali suara gemeretak tembakau yang terbakar terdengar lagi.
“Memalukan bukan?”
“Aku belum bisa memutuskan itu memalukan atau tidak sebelum kamu menjelaskan alasannya padaku.”
Pria berkulit hitam itu menarik napas, seakan mencoba mengumpulkan kekuatan dari udara di sekitarnya.
“Aku jatuh cinta pada seorang wanita.”
“Lalu?” tanya si rambut pirang ketika teman kulit hitamnya tidak meneruskan ucapannya.
“Tapi wanita ini memilih adikku.”
“Dan adikmu...?”
“Adikku juga mencintainya.”
Si rambut pirang menghisap rokoknya lagi. Ruangan berasap itu kini semakin pengap oleh bau cengkeh terbakar. Pria kulit hitam itu tidak merokok, dia hanya sesekali mengibaskan tangannya mengusir asap dari wilayah napasnya. Mereka sudah bersahabat sekian lama. Dan persahabatan yang telah melalui banyak rintangan dan kompromi itu memuarakan hubungan mereka menjadi rasa saling menghormati atas perbedaan yang begitu besar. Salah satunya kebiasaan merokok ini, dan yang lain adalah perbedaan agama mereka.
“Wanita itu muslim,” si kulit hitam meneruskan ceritanya.
“Jadi kamu pikir seandainya kamu tidak mengajak adikmu masuk islam, maka kamu yang akan mendapatkan wanita itu?”
Si kulit hitam tidak menjawab. Tangannya meraih kotak rokok di atas meja dan menutupnya. Seperti sebuah permintaan tanpa suara agar sahabat kulit putihnya mencukupkan tambahan asap rokok sekarang juga.
“Kalau kondisinya seperti dulu, maka hanya aku yang beragama islam di keluargaku. Dan wanita itu tidak akan memilih adikku. Dan kalau pun dia tidak mencintaiku, maka dia tidak akan memilih siapa pun. Tapi yang jelas, tidak akan memilih adikku.”
“Kamu mengucapkannya dua kali.”
“Aku tahu,” dia tersenyum getir.
“Kamu berharap aku berkata apa?”
Si kulit hitam hanya mengendikkan bahunya.
“Mungkin kamu akan berkata, ‘sudahlah ikhlaskan saja mereka. Toh kamu mencintai adikmu juga kan. Tak ada yang lebih baik dari pada melihat orang-orang yang kamu cintai bahagia’.”
Si kulit putih memandang wajah putus asa temannya.
“Atau kemungkinan yang kedua kamu akan berkata, ‘wanita mana pun tentu saja akan lebih memilih adikmu daripada kamu. Jadi seharusnya kamu menyadari hal ini sebelum semuanya terjadi.’ Begitu kan?”
“Mendekati, yang pertama. Tapi yang kedua sepertinya tidak. Tapi yang aku heran, baru kali ini aku melihat kamu iri pada adikmu. Bukankah selama ini kamu sangat bangga padanya, dan selalu berusaha melindunginya?”
“Dulu kami punya kehidupan sendiri-sendiri. Tapi kali ini entah mengapa wanita ini mempertemukan kami berdua di titik yang sama. Michael, selalu Michael. Dia selalu menjadi yang lebih bahagia dibanding kami semua.”
“Benarkah?” seperti ada kejutan kecil yang menghentak wajahnya. Ia menekan rokoknya di asbak, dan bara itu pun padam.
“Siapa di antara kalian semua yang paling frustasi dengan fisiknya?”
Pria kulit hitam itu tidak menjawab.
“Siapa di antara kalian semua yang selalu bersembunyi seumur hidupnya?”
Dia masih tidak menjawab.
“Dan siapa di antara kalian semua yang paling tidak berhasil dalam kehidupan cintanya?”
Lagi-lagi dia tidak menjawab.
“Dan kamu masih ingin mengatakan bahwa dia selalu menjadi yang paling bahagia?”
Dia tetap tidak bersuara.
“Paling tidak kalian semua pernah merasakan jatuh cinta, cinta yang sejati, bukan cinta palsu atau cinta sesaat. Aku justru merasa adikmu Michael itu yang paling sengsara hidupnya dibanding kalian semua. Kalau pun kali ini dia bisa merasakan cinta sejati, mungkin ini yang pertama dalam hidupnya. Berilah dia kesempatan. Toh kamu sudah pernah merasakan hidup penuh cinta bersama Victoria.”
Pria berambut pirang itu meraih kotak rokoknya, tapi kemudian ditutupnya lagi dan diletakkan kembali ke atas meja.
“Lagipula kamu lebih pantas menjadi ayah dari wanita ini daripada menjadi suaminya.”
“What? Kamu tahu wanita ini?”
“Aku cuma menebaknya. Dia tetangga baru kakakmu kan? Yang tinggal di sebelah rumahnya?”
“How do you know?”
“TJ pernah bercerita padaku.”
“Really?”
“Yah. Dan sepertinya TJ juga jatuh cinta padanya.”
“WHAT?”
Pria kulit putih itu tertawa terbahak-bahak melihat wajah sahabatnya. Dia meraih lagi kotak rokoknya dan menyalakan batang yang baru.
*inspired by Michael Jackson's song

Tidak ada komentar:
Posting Komentar