7 Jan 2008


Aku adalah seorang gadis desa, rakyat jelata, anak petani miskin biasa, tanpa ambisi muluk, karena hidupku yang sangat sederhana ini pun sudah cukup untuk menjerat impian-impianku. Maka aku hanya berani bermimpi saja, tidak pernah berani berharap untuk meraihnya.


Dan ketika aku jatuh cinta pada pangeran di puncak kastil...


Ya, ia seorang pangeran, yang hidup di kerajaan di atas bukit, bersama Raja dan Ratu. Ia adalah putra mahkota yang akan mewariskan seluruh kerajaan ini kelak, seluruh kekayaan, seluruh kejayaan. Ketika aku menumbuk padi, aku selalu menatap ke puncak kastil tempat ia biasa bermain musik di sana. Ketika aku sedang mengaji di surau desa kami, aku selalu mencuri pandang pada kereta kencananya yang melintas untuk pergi ke pesta-pesta para bangsawan. Ketika aku berjalan ke sungai untuk mencuci pakaian bersama teman-temanku, aku selalu melirik ke arahnya yang sedang bermain bola bersama teman-teman dan pengawalnya di halaman istana.


Ya, aku si gadis desa, rakyat jelata, anak petani miskin biasa, jatuh cinta pada pangeran di puncak kastil. Ibu dan saudara-saudaraku selalu mencemooh dan menertawakanku.


“Mengapa kau menyukainya? Kamu ini cuma gadis desa berwajah jelek dan berbaju kumal. Sedangkan pangeran itu bisa memilih anak bangsawan tercantik mana pun yang ia inginkan,” ujar kakak perempuanku.


“Mengapa kau menyukainya? Kau ini hidup di desa di bawah bukit, sedangkan dia hidup di istana di puncak bukit, yang bahkan warna jaritmu pun tidak akan terlihat jelas dari atas sana,” ujar Ibuku.


“Mengapa kau meyukainya? Kita ini keluarga yang taat beragama, sedangkan dia seorang pendosa,” dan ujar Ayahku.


Ya, semua orang mengatakan hal ini. aku tidak setara kastanya. Dan aku berada jauh dari jangkauan pandangnya. Serta semua orang mengatakan pangeran itu adalah seorang pemabuk, penjudi, bahkan ada yang mengatakan ia pemerkosa.


Tapi aku tidak peduli, aku tetap menyukainya. Dia pangeran yang tampan, pintar, dan cemerlang. Dia memiliki senyuman paling indah yang pernah kutemukan. Dia sangat pintar bermain musik dan menyanyi, dia sangat pintar berbicara dan bercerita, dia sangat pintar mengatur urusan-urusannya. Aku hanya berdoa bahwa semua cerita buruk tentangnya hanyalah fitnah dari orang-orang jahat yang tidak menyukainya. Sembari di satu sisi hatiku yang lain takut untuk berharap, karena jika ternyata cerita itu benar maka aku adalah orang yang paling kecewa.


Maka aku melanjutkan hidupku yang biasa dan sederhana. Cintaku pada pangeran terpendam di dasar hatiku, terpendam begitu dalam hingga terkadang aku lupa pada kotak penyimpanan rahasiaku ini. Aku jatuh cinta silih berganti pada pria desa, hingga akhirnya menemukan tambatan hatiku. Lalu aku menikah, memiliki anak, membangun rumah tanggaku yang sederhana dan bahagia seperti rumah tangga orang tuaku.


Lalu aku mendengar berita itu. Pangeran telah bertobat. Dia tidak lagi minum minuman keras dan mabuk di pesta-pesta. Dia tidak lagi bermain uang di meja judi dan lebih banyak mensedekahkannya. Bahkan dia tidak lagi bermain-main dengan wanita seperti dahulu kala. Kini dia rajin sholat, belajar mengaji, dan menimba ilmu agama di surau yang dibangun di kerajaan.


Aku sangat gembira, kukeduk lagi kotak rahasiaku, kukeluarkan lembaran-lembaran cintaku dan kusembunyikan di bawah bantalku. Tanpa seorang pun tahu.


Tapi ini semua pun hanya cerita yang belum pasti kebenarannya. Pangeran tidak pernah mengumumkan tentang pertaubatannya pada penduduk desa. Entah mengapa. Kata orang-orang agar pabrik pembuat minuman tidak mengalami kerugian, tempat-tempat perjudian tidak kehilangan pamornya, dan pesta-pesta bangsawan tidak kehilangan glamornya, karena pangeran menjadi ikon mereka selama ini.


Seandainya saja berita ini benar, maka aku akan menjadi orang pertama yang bersujud syukur, di mana pun aku berada, bahkan di atas hamparan padi yang dijemur di halaman rumahku. Namun seperti sebelumnya, aku juga takut kalau itu hanya rumor. Karena mungkin aku akan menjadi orang yang paling kecewa seandainya cerita itu hanya isapan jempol belaka.


Maka aku hanya berani bermimpi saja, tidak pernah berani berharap untuk meraihnya.

Tidak ada komentar: