
“Mak !” Emak diam saja.
“Mak, liat mak!” kali ini aku yakin mampu menarik perhatian Emak,
“Matahari terbit, Indonesia benderang. Bung Mochtar melejit, Bintang Perak menang. Partai Bintang Perak, partai dambaan. Partai Bintang Perak, partai harapan.”
Plak! Tiba-tiba pipi kiriku panas. Dugaanku tidak meleset, tapi reaksi Emak lebih dari yang kuharapkan.
“Sudah dibilang nggak usah ikut-ikut kampanye! Mau cari celaka apa?” Mataku berkaca-kaca merasakan sakit di pipiku, tapi kutahan agar air mataku tidak mengalir. Anak laki-laki pantang menangis.
“Diajak Bang Jais, Mak.”
“Tolol kamu! Ya jangan mau! Emang dapet apa ikut begitu-begituan. Nggak ada gunanya,” Emak membentak-bentak tanpa memandangku. Tubuhnya kembali ia hadapkan ke kompor dan sayur santan yang mulai mendidih.
“Dapet kaos Mak, dapet makan, sama dapet duit 10 ribu.”
Emak terdiam, beku seketika.
“Duitnya mo Anto beliin topi sama dasi buat upacara. Kemarin Senin Anto dihukum lagi gara-gara nggak pake topi sama dasi.”
Emak kembali mengaduk sayurnya seakan tak peduli. Aku tak berani tengadah memandang wajah Emak.
“Besok-besok nggak usah ikut kampanye lagi. Nggak dapet duit nggak pa-pa. Biar Emak sama Bapak yang nyari duit. Kamu sekolah, belajar. Belum wayahnya ikut-ikut begituan.” Suara Emak mulai melunak.
“Mandi sana! Bau keringet.” Aku beringsut meninggalkan Emak. Kuraba uang 10 ribu di kantungku. Aku masih tidak mengerti jalan pikiran Emak. Emak terlalu khawatir. Tapi aku kan anak laki-laki, aku bukan anak penakut. Lagipula cerita-cerita menakutkan Emak sama sekali tidak terbukti.
“Mak, kampanye, Mak!” aku menunjuk gambar di tv.
“Trus kenapa?” jawabnya seraya menelungkupkan tubuh Wati, adikku yang baru berusia 7 bulan dan menaburkan bedak di punggungnya.
“Seru ya Mak?”
“Seru apanya? Kampanye kok seru.”
“Ya seru, Mak. Keliling kota naik motor rame-rame, sorak-sorak, nyanyi-nyanyi, ngibar-ngibarin bendera,” aku sangat menikmati kemeriahan kampanye di layar TV.
“Iya, sekarangnya sih seru. Ntar lama-lama jadi serem.”
“Emang kenapa Mak?”
“Ntar lama-lama rusuh, tuh. Pada gontok-gontokan, pukul-pukulan, bacok-bacokan. Kan serem itu namanya.”
“Masa sih Mak?” aku tak serta merta percaya pada cerita Emak yang meluluh lantakkan kebahagiaanku.
“Kampanye gitu banyak bahayanya.”
“Ah, nggak ah Mak. Tuh liat orang-orangnya pada ketawa-ketawa, masa kayak gitu bahaya?”
“Kok nggak percaya sama omongan Emak,” Emak seperti tahu apa yang ada di pikiranku.
“Pokoknya nanti kalo ada yang ngajak kamu ikut kampanye jangan mau.” Sirat kekecewaaan seketika tampak di wajahku. Aku diam saja.
“Ya To?” aku tetap tak menjawab. Bahkan dalam hatiku pun aku tidak menjawab. Tidak ‘ya’, tidak juga ‘tidak’.
“To, sini!” Bang Jais melambaikan tangannya memanggilku. Di sana sudah berkumpul Imang, Andar, dan Somat. Aku mendekat enggan.
“Mau nggak ikut kampanye lagi?”
“Mau dong, To,” Somat membujuk.
“Mau ya To, besok. Tapi partainya beda. Partai Persatuan Indonesia. Ntar gue ajarin yel-yelnya,” ujar Bang Jais. Aku masih tak menjawab.
“Ayo To!” kali ini Andar yang ikut rembuk.
“Kemarin dipukul Emak,” jawabku singkat. Mereka berempat terdiam sejenak, lalu tergelak tiba-tiba.
“Trus takut lu? Yaaah… baru dipukul sekali aja udah nyerah gitu,” ujar Imang.
“Jangan banci lu ah! Emang kenapa sih?”
“Ayo To, enjoy-enjoy, rame-rame, kan asyik?” Aku masih ragu-ragu.
“Heh To, kali ini duitnya kebih gede. Lima belas ribu. Rugi lu nggak ikut,” ujar Bang Jais disemangati yang lain.
“Nggak bakalan dibolehin sama Emak.”
“Ya nggak usah bilang-bilang sama Emak lu. Kaya kemarin juga kita langsung berangkat. Pulang bawa duit. Kan Emak lu juga ikut seneng.”
“Ntar Emak marah lagi.”
“Ya nggak pa-pa, marah sekali-kali ini.”
“Iya, ntar ganti pipi kanan gue yang ditabok!”
“Kan impas. Hehehe…,” Imang menyeringai menyebalkan.
“Ayo To, sehari dapet duit segitu masa lu nggak mau sih?” Aku terdiam, Andar, Imang dan Somat sama-sama memanas-manasi.
“Ya udah, kalo lu nggak mau jatah lu yang 15 ribu dibagi buat Somat, Andar sama Imang aja ya? Jadi mereka dapet 20 ribu. Gimana?”
“Wah, iya deh,” ketiga bocah itu saling tos, membuat aku iri.
“Gimana? Mau nggak? Nggak mau beneran nih? Ya udah, 20 ribuan ya?”
“E, mau mau!” aku segera mengubah jawabanku.
“Nah, gitu donk,” Bang Jais tertawa disambut yang lain. Aku memilih tetap diam saja.
Ternyata kampanye kali ini lebih ramai, pesertanya lebih dari dua kali lipat dibanding kampanye Partai Bintang Perak yang aku ikuti kemarin. Tapi masa bodoh, suasana ini lebih meriah rasanya. Kaos orange bergambar Partai Persatuan Indonesia terlalu besar di badanku. Bendera berukuran sedang kukibar-kibarkan sambil berdiri di atas sepeda motor yang melaju. Aku bahkan tidak mengenal siapa pria yang kutumpangi ini. Tapi sekali lagi masa bodoh, kurasa semua orang juga tidak saling kenal. Aku bersorak sorai, bernyanyi serempak. Matahari panas menyengat, tapi awan hitam tampak mulai menggantung di sebelah selatan. Sebentar lagi pasti berarak menuju ke arah kami.
“Oye… o o oye, Partai Persatuan Indonesia , partai pemersatu pilihan rakyat, oye… o o oye…!”
Tiba-tiba dari arah berlawanan muncul arak-arakan lain berwarna ungu terang. Aku dan semua orang justru semakin semangat bernyanyi, semakin keras suara kami, dan semakin panas suasana.
Tak kusangka barisan terdepan mulai porak-poranda. Kayu-kayu yang awalnya berfungsi sebagai tiang bendera kini berubah fungsi menjadi pentungan untuk kepala-kepala manusia. Kericuhan semakin bergerak ke arah barisan belakang. Aku panik. Aku segera lompat dari sepeda motor. Tak kupedulikan benderaku yang jatuh dan sandal jepitku yang lepas satu.
Aku berlari, mencari Somat, Andar, Imang, atau Bang Jais. Semua orang berhamburan tak tentu arah. Ada yang mendekati lawan, ada yang berlari menghindar. Aku hanya ingin menemukan teman-temanku. Mataku nyalang memandang ke segala arah. Tak kusangka dari arah depan muncul orang berkaus ungu bersepeda motor sambil membawa bendera besar. Ketika jarak kami semakin dekat, pria itu mengarahkan ujung tiang benderanya ke arahku.
Aku tak sempat menerjemahkan gerakan itu. Yang aku sadari kemudian, ketika tiang kayu itu semakin dekat ke tubuhku, aku baru dapat melihat besi putih berkilat di ujungnya, dan sesaat kemudian besi itu tak terlihat lagi.
Aku tergugu, lututku lemas dan jatuh. Kutekan perut kiriku yang sakit, sakit sekali! Rasanya basah dan lengket. Tapi tak ada yang peduli padaku. Aku terbaring mengerang di aspal, memandang langit, mencari-cari matahari yang sudah tertutup awan mendung. Tiba-tiba pipi kananku panas dan wajah Emak muncul di hadapanku,
“Sudah dibilang nggak usah ikut-ikut kampanye!” sakit di perutku seakan beralih ke pipi kananku. Aku tak mampu menjawab Emak, hanya mataku memelas mengharap bantuan darinya. Tapi tiba-tiba wajah Emak berubah menjadi seringai culas Bang Jais,
“To, 15 ribu To. Kalo lu nggak mau dibagi buat Imang, Andar ama Somat aja ya?” Bang Jais terkekeh mengejekku.
Aku meringis, perutku kembali terasa sakit. Wajah Bang Jais berganti tiga temanku yang tertawa-tawa, lalu wajah Emak, lalu ricuh orang berlari, lalu kembali wajah Bang Jais yang terkekeh. Kepalaku menjadi pusing, pandanganku semakin kabur. Kumasukkan tanganku ke saku celana. Uang 15 ribu masih ada di situ, tapi terasa basah dan lengket di tanganku.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar