7 Jan 2008

SEMALAM PADA BULAN DAN BINTANG


“Bangun, manusia!!” sentakan keras itu membangunkanku dari tidur. Tak lepas keterkejutanku menatap seorang pria berdiri di sisi ranjang, bayangan dinding gubug menutup wajahnya. Sejenak kukerjapkan mata, lampu minyak yang tergantung di dinding gubug mulai meredup sinarnya kehabisan minyak dan tertiup kencangnya angin laut. Plak! Sebuah tamparan panas mengenai pipi kiriku.


“Lekas bangun! Apa yang kau tunggu?!” pria itu menyentakku lebih keras dengan suaranya yang berat dan dalam setelah menampar pipiku. Tersadar pada posisiku, aku beranjak turun dari ranjang dengan kebingungan yang belum usai. Kuraih pakaianku dan kututupkan pada tubuhku yang setengah telanjang. Pandanganku beralih pada seorang wanita yang masih terlelap di ranjang tadi. Kutarik kain tipis yang terjuntai ke bawah, kututupkan ke tubuhnya yang tak berpakaian.


“Cepat!!” teriaknya lagi.


“Sebentar,” suaraku bergetar ketakutan seraya mengeluarkan lima lembar puluhan ribu dan kuletakkan di rak dekat ranjang, di antara serakan bungkus-bungkus alat kontrasepsi.


“Ikut aku!” sergah pria itu lagi.


“Ke mana?” tanyaku tak mengerti. Ia tak menjawab, hanya membalikkan badannya dan berjalan beberapa jarak membuka pintu gubug.


Seperti terhipnotis aku mengikutinya, penuh rasa takut dan segan menolak, bahkan aku tak berani menanyakan siapa dirinya, apa keperluannya, bagaimana dia bisa masuk ke gubug yang kukunci, dan mengapa aku bisa begitu menurut padanya?


Tiba-tiba terlintas di benakku, apakah ini penggerebekan? Dan aku akan dipenjara atau dihakimi massa ramai-ramai? Aku hendak melarikan diri, namun kakiku serasa terpaku, tenggelam di pasir pantai, tak ingin berbelok dan terus berjalan mengiringi langkah pria itu.


Ia meraih sebuah lampu badai yang tergantung di atap teras gubug, lalu kembali melangkah menuju tepi pantai. Kudekap dadaku dengan kedua belah tanganku. Udara pantai malam ini yang teramat dingin membuat dadaku yang tipis seperti ditusuk pedang-pedang pesulap. Dan aku hanya melapisi tubuhku dengan sehelai kemeja. Sempat kupalingkan wajahku menatap gubug tempatku bercinta dengan pelacur tadi, juga jajaran gubug-gubug lain di pangkal pantai yang disewakan penduduk sekitar untuk keperluan serupa. Suasana lengang ini bertolakan dengan sayup hingar suara tawa dan musik dangdut yang masih terdengar di antara kerlip lampu pemukiman penduduk sekitar pantai.


Aku terus melangkah dalam temaram malam di pantai pasir hitam tepian selatan kota ini. Lampu badai di tangan pria itu bergoyang-goyang tertiup angin, sinar redupnya bergerak-gerak menambah suasana mencekam di sekelilingku. Tersaruk-saruk aku berjalan, tersandung akar rumput pantai dan serakan sampah di antara pepasir, tubuhku sedikit merunduk menahan dingin. Tapi pria itu tegak berjalan seolah sama sekali tak terpengaruh oleh kebekuan malam.


Kami terus melangkah hingga tepian. Sebuah perahu kecil milik nelayan terdampar di situ. Tanpa ragu ia menaikinya.


“Naik!” perintahnya. Tanpa sergahan aku menurut, kami duduk berhadapan. Tiba-tiba sebuah ombak besar menepi dan menarik perahu kami ke arah laut. Perahu sedikit oleng, panik aku berpegangan pada sisi perahu, namun pria itu tetap tegak pada duduknya. Seketika laut kembali tenang saat perahu kami sudah cukup jauh dari pantai.


“Dayung!” ucap pria itu. Tak kuasa membantah, aku meraih dayung di dasar perahu. Angin membawa aroma asin basah air laut. Keheningan malam hanya terpecah oleh suara percikan air yang memukul dinding perahu. Kini yang ada di sekelilingku hanya air yang beriak-riak menggoyang perahu, suara desir angin, dan ombak di tengah lautan. Awan hitam mendung berarak bergelayut di langit biru pekat.


“Kita ke mana?” tanyaku tak mengerti, seraya canggung mendorong dayung yang belum pernah kulakukan sebelumnya. Lagi-lagi pria itu tak menjawab, matanya hanya terus menatap mataku. Aku bergidik membalasnya. Begitu keras dan tegas pandangan itu, seperti seseorang yang memandang mahluk menjijikkan yang sangat dibencinya dengan penuh amarah. Api lampu yang bergoyang sesekali menyinari wajahnya, menampakkan kerutan keriput di dahi, mata, dan gelambir pipi kurusnya. Sejumput janggut abu-abu keperakan tampak di dagunya yang kecil.


Aku terus mengayuh hingga jauh, hingga kerlipan lampu penduduk dan gubug-gubug pangkal pantai tak lagi tampak. Laut tenang, tak ada lagi desiran angin, tak ada lagi suara ombak, perahu kami terombang-ambing oleh riak air. Aku berhenti mendayung, tanganku sudah terlalu lelah, kupijat-pijat otot lenganku yang menegang.


“Sekarang apa? Kau ingin aku melakukan apalagi?” tanyaku mulai meluapkan rasa marah.


“Kau sudah membawaku ke tengah lautan seperti ini, dan entah bagaimana aku tahu arah, entah apa bisa aku kembali pulang nanti. Apa maumu? Mengapa kau mengajakku kemari? Kau ingin merampokku? Kalau kau ingin merampokku mengapa tidak kau lakukan saja sedari tadi? Atau kau juga ingin membunuhku? Menenggelamkanku di tengah laut? Siapa kau ini?” kemarahanku sudah tercekat di leher, siap kumuntahkan.


“Ini adalah pengadilanmu, manusia. Peradilan atas kesia-siaan yang kau bawa dalam hidupmu,” jawabnya angkuh. Clak!! Kupukul air laut dan kuarahkan ke mukanya. Ia tak bergeming, hanya sorot matanya yang semakin memarah.


Tiba-tiba air kembali beriak, semakin lama semakin kencang, hingga kupikir badai tiba-tiba datang. Angin bertiup kencang membawa titik-titik air asin, dan perahu kami oleng. Hampir saja perahu ini terbalik. Aku berpegangan erat, aku kembali panik.


“Tolong! Tolong!”


“Diam kau, manusia!! Sikapmu itu membuat alam pun marah padamu,” ujarnya dingin. Perlahan laut kembali tenang, angin tak berhembus, perahu seimbang. Tubuhku kaku, berusaha menahan diri dengan mengatur napasku naik turun, mengikuti irama detak jantungku yang berdegup kencang.


“Kau sendirian sekarang, jangan berbuat macam-macam. Aku adalah jaksa, kau adalah terdakwa, alam adalah jurinya, dan Allah hakimnya. Bila kau celaka, tak ada yang akan menolongmu,” ujarnya.


Aku terpaku, mencerna kalimat barusan. Aku memang bukan orang sini, aku tak akan bisa berbuat apa-apa bila terjadi kecelakaan dengan perahu ini. Apa dia orang kampung yang gila, terlepas dari pasungan, dan sekarang mengajakku bermain pura-pura?


“Pengadilan apa? Kau sinting ya?”


“Sebagai terdakwa kau telah bersikap tidak sopan dalam pengadilan. Sikapmu itu bisa memberatkan hukumanmu.”


“Hahaha, benar kau ini orang sinting, edan! Aku tadi sudah ketakutan setengah urip!” napasku menurun lega. Tapi ekspresi wajah pria itu tidak juga berubah. “Tapi aku heran kok bisa aku menurutimu hingga jauh ke tengah lautan seperti ini.”


“Akhirnya kau sadar juga kalau kau berada di tengah lautan, jauh dari pantai. Dan kau sangat bergantung padaku, karena tak ada yang bisa menolongmu selain aku. Dan sikap tidak sopanmu itu membuatku enggan menolongmu.” Sesaat hening. Aku terdiam, tapi senyum simpul muncul di sudut bibiku.


“Sombong kau! Kau kira kau penguasa di laut ini ya? Tidak apa-apa. Kuturuti maumu main pengadilan-pengadilanan,” ujarku seperti sedang berbicara dengan seorang anak kecil. “Seorang kakek tua renta berani mengadiliku, bersikap seakan-akan kau bisa menguasai aku. Bisa saja orang-orang kampung yang tengah mencari ikan akan menemukanku. Aku tinggal berteriak ‘Rampok!’ mereka pasti akan menyelamatkanku. Dan memukulimu habis-habisan. Iya kan?” jawabku mulai seraya tertawa kecil.


“Aku memang tengah menguasaimu. Selain aku siapa yang bisa menolongmu? Tak akan ada yang peduli padamu,” ejeknya.


“Hai, semua orang peduli padaku. Siapa yang tak peduli pada orang kaya seperti aku? Semua orang peduli padaku.”


“Bila kau mati, semua orang akan berpesta pora dengan hartamu, membeli pakaian mewah dan makanan mahal dengan uangmu, mengadakan pesta di pabrikmu, memanggil orkes musik, berjoget semalam suntuk, merayakan kematianmu, bersenang-senang atas perginya majikan yang serakah, yang memakan harta pekerjanya, dan keji pada nasib pegawainya.”


“Tidak mungkeeeen! Mereka orang yang setia,” jawabku yakin.


Namun aku kembali terdiam, ada ragu menelusup relung hatiku, sungguhkah mereka setia? Sekilas pria itu tersenyum sinis , seperti bisa membaca apa yang terlintas di benakku.


“Tapi kalau mereka menghianatiku, istriku akan menuntut mereka. Istriku yang setia…,”


“Ya, istrimu yang setia, yang selalu menurutimu, dan kau perlakukan tak lebih dari budakmu. Yang kau dekati saat kau membutuhkannya, dan kau tinggalkan saat kau sadar istrimu tak lagi secantik dulu. Yang kecantikan wajahnya memudar termakan usia. Yang tubuhnya tak lagi seperti dulu karna menampung janin anak-anakmu. Yang kau hianati dengan wanita-wanita lain yang harga dirinya jauh dibawah kemuliaan istrimu. Akankah ia masih peduli padamu setelah kau tak peduli padanya?”


Aku menelan ludah, sungguhkah? Istriku setia, aku tahu itu. Aku yakin atas kesetiaannya yang sudah terbukti selama sekian tahun hidup bersamaku.


Dan setelah sekian tahun pula kuhianati, akankah ia masih setia? Ia yang sakit fisiknya? Ia yang sakit hatinya?


“Anak-anakku yang akan membelaku, membela ayahnya,” sahutku membela diri.


“Anakmu? Akankah anakmu peduli padamu? Pada ayahnya yang tak pernah memberi perhatian dan kasih sayang, ayah yang selalu bermain tangan atas kesalahan mereka, yang terlalu sering menyakiti ibu mereka di depan mata mereka sendiri. Mungkin mereka sudah sedari dulu berharap kau dipenjara, pergi jauh dari rumah, atau bahkan mungkin mereka berharap kau mati dan tak muncul lagi di tengah mereka.”


“Aku keberatan!”


“Keberatan ditolak.”


“Siapa kau ini sebenarnya? Ayo ngaku! Kalau nggak aku hantam kepalamu!” aku berdiri seraya mengacungkan dayung di atas kepalaku. Kutantang matanya. Tapi ada bayangan gelap di wajah orang ini, bayangan gelap yang membuatku merinding dan tidak berdaya. Seperti mendadak lemas, lenganku kuturunkan dan lututku kembali menekuk untuk kemudian aku duduk lagi di atas perahu. Aku jadi ragu, benarkah dia orang gila? Sepertinya orang gila tidak mungkin memiliki bahasa seperti tadi dan mengetahui semua rahasia terdalamku? Siapa dia sebenarnya? Setan yang ingin mencelakakanku? Atau malaikat maut yang akan menghukumku? Atau dewa laut yang meminta tumbal malam ini? Aku terdiam. Rasa kalut mulai melesuki benakku.


“Ah, aku masih punya Ibu,” belaku dengan suara bergetar. “Ibu akan membelaku dengan kasih sayangnya,” jawabku.


“Ya, ibumu yang penuh perhatian membuaimu dalam dekapannya, yang menyayangimu sepenuh hatinya, mendidikmu untuk menjadi pria yang soleh, yang mengajarkanmu arti kejujuran, namun kau sia-siakan. Yang kau tinggalkan dengan hardikan atas rentanya yang bagimu sangat merepotkan, yang kau serahkan pada pembantumu untuk mengasuhnya, tapi kemudian kau dekati saat kau membutuhkannya?”


Ubun-ubunku memanas, “Bohong! Kau menghasutku! Kau menghinaku! Aku tak sehina itu!” Perahu oleng oleh kemarahanku. Tiba-tiba angin kembali berhembus, semakin kencang, laut kembali beriak, dan perahu semakin tak terkendali.


“Tolong… tolong tenangkan laut ini…!” aku panik.


“Yang dapat menenangkannya adalah jiwamu sendiri, manusia,” jawab pria tua itu. Aku berusaha menenangkan diri, mengatur napas, dan laut pun perlahan kembali tenang.


“OK, mungkin mereka tak bisa menolongku. Tapi ada satu yang pasti akan menolongku. Tuhan. Tuhan akan menolongku,” jawabku diantara engahan napas beratku.


“Ha…ha…ha…ha…!!!” pria itu tiba-tiba terkekeh panjang, tawanya tak henti, menertawakan jawabanku barusan. Wajahku menegang, tersinggung oleh sikapnya. Tanganku bersiap hendak meraih dayung di bawah kakiku. Namun tiba-tiba terdengar suara tawa yang lain, perlahan, lalu semakin lama semakin jelas. Lalu muncul lagi tawa yang lain, lalu ada lagi, dan ada lagi, seperti berjuta-juta mahluk menertawakanku.


“Dengarlah, alam pun menertawakanmu,” ujarnya di tengah gelak tawanya. “Laut, angin, bintang, bulan, bahkan perahu dan dayung ini pun menertawakanmu”.


“Bohong, kau bohong!”


“Kau tak percaya? Lihatlah alam, tataplah langit, dan pasang telingamu baik-baik!” ia masih terus tertawa. Dahiku berlipat kerut. Kutatap langit yang hitam, lama kelamaan muncul titik-titik sinar bintang, dan bulan pun mulai terlihat sabit. Semakin lama bintang-bintang itu semakin mendekat dan terlihat sangat besar, bulan pun membulat dan seakan turun ke bumi. Bintang-bintang itu semakin jelas permukaannya, seperti berjuta bintang hendak menghantam permukaan laut, bulan pun semakin mendekat. Semua menyeringai, dengan wajah tertawa mengejekku. Desiran angin dan suara ombak laut terdengar seperti suara kekehan tawa yang tiada henti. Api lampu bergerak menunduk-nunduk seperti orang yang tertawa terpingkal-pingkal. Bahkan kakiku terasa bergetar oleh tawa perahu dan dayung yang berderak-derak di atasnya. Semua tertawa, mengejekku, termasuk si tua di hadapanku.


“Diam! Diam kalian semua!!” aku mengamuk di atas perahu. Tiba-tiba semua terdiam, angin berhenti, laut hening, dalam sedetik bintang dan bulan tertarik mundur hingga tak tampak di permukaan langit, pria tua di depanku pun terdiam dengan wajah amarahnya. Sedetik tenang, lalu angin kembali berhembus kencang, laut berombak, dan perahu kembali oleng.


“Ampun, ampun, aku akan mengendalikan emosiku. Kumohon tenanglah, jangan buat aku mati di sini,” aku menghiba, air mata mulai menggenang di pelupuk mataku. Alam kembali tenang. Napasku naik turun, kucoba mengendalikan hatiku yang ketakutan.


“Kau masih ingat Tuhan rupanya?!” tanya pria itu memecah keheningan.


“Kupikir kau sudah melupakanNya.”


“Tidak! Tuhan yang meninggalkanku. Aku yang sekian tahun tersaruk dalam kesengsaraan sama sekali tak Ia pedulikan. Maka aku tinggalkan Ia, dan aku bisa menjadi kaya dengan caraku.”


“Ya, seperti caramu pada istri dan ibumu. Yang kau datangi saat kau membutuhkanNya, yang kau puji saat kau meminta padaNya. Dan kau lupakan saat kau memperoleh apa yang kau mau.”


“Tidak, itu tidak benar. Tuhan tak pernah mendengar doaku.”


“Kau tak pernah sabar, manusia. Kau tak pernah mematuhi peraturan jual beli dengan Tuhanmu. Apa yang pernah kau jual padaNya sebagai penukar segala yang kau minta? Kau terlalu menuntut Tuhanmu membeli barang daganganmu yang sama sekali tak sebanding dengan apa yang kau kehendaki. Kau tak melayani Tuhanmu sebagai raja. Kau tak pernah ikhlas memberi yang terbaik bagi Tuhanmu. Lalu kau berpaling dariNya, dan kini saat kau membutuhkanNya kau memohon-mohon bantuan? Hamba macam apa kau ini?” kalimat-kalimat itu sejurus menusuk hatiku.


“Kapan terakhir kau bersujud memujaNya? Kapan terakhir kau membaca surat-surat suciNya? Kapan terakhir kau bersedekah atas namaNya? Kapan terakhir kau menyayangi mahluk ciptaanNya? Kapan terakhir kau menahan lapar untuk menjalankan perintahNya? Kapan terakhir kau bertasbih menyebut namaNya? Kapan terakhir kau menginjakkan kakimu berkunjung ke rumahNya? Kapan terakhir kau menahan nafsu untukNya? Kapan terakhir kau…” kalimat itu terus-menerus terucap merobek-robek gendang telingaku. Aku tak tahan, aku menutup kedua telinga dengan tanganku.


“Hentikan! Hentikan!” tapi pria itu tak berhenti berbicara, ia terus menghujatku, membuka segala tabir kebusukanku, mengorek berjuta kesalahanku, menghujam… menghujam hingga menyesakkan.


“Diaaaam…!” aku berteriak sekencangnya. Pria itu terdiam. Matanya tajam menatapku yang masih terengah seraya menutup kedua telingaku.


“Kau hanya mahluk busuk yang tak berguna, yang menghabiskan waktumu untuk berhura-hura. Tak ada gunanya kau hidup lagi, selain hanya untuk semakin menambah tumpukan dosa-dosamu. Namun bila Allah masih menyelamatkanmu kali ini, berarti Ia masih memberimu kesempatan sekali lagi, walau pun bagiku akan lebih baik bila Ia mencabut nyawamu sekarang juga,” ujar pria itu. Suaranya dalam menekan jiwaku. Aku terdiam tak mampu berbicara apa pun. Lalu pria itu memejamkan matanya. Mulutnya perlahan mengucap tahlil, terus mengucap tahlil,


“Laa ilaaha illallah… laa ilaaha illallah…”


Sesaat kemudian angin mulai berhembus perlahan, dan air laut kembali beriak. Aku menyapukan pandangku ke sekeliling. Kupasang mata dan telingaku, suara hembusan angin dan riak air laut itu seperti juga mengucap tahlil. Lalu datang lagi suara dari arah langit, aku menengadah. Perlahan-lahan bintang dan bulan kembali muncul. Mereka pun bersama-sama mengucap tahlil, perlahan, dalam, dan hidmat.


“Laa ilaaha illallah… laa ilaala illallah… laa ilaaha illallah….” Bulu kudukku meremang, tubuhku kaku mendengar lantunan tahlil alam. Lalu suara-suara itu semakin lama semakin keras, seiring hembusan angin dan riakan air laut yang juga semakin kencang. Bulan dan bintang-bintang kembali mendekat, semakin tampak besar dan bergerak ke arah perahuku. Aku ketakutan. Angin berhembus semakin kencang, perahu mulai oleng. Lalu api lampu badai mati, dan hanya tersisa gelap di sekelilingku. Tanganku bergerak kesana-kemari mencoba mencari pria tua di depanku. Tapi tanganku tak menemukan apa pun, ruang di depanku kosong. Aku sendiri di perahu ini, betul-betul sendiri. Aku panik, kedua tanganku berpegang erat pada sisi perahu.


“Tolong… tolong… aku tak mau mati sekarang… tolooong…!!!!” aku berteriak sekencangnya, tapi tak ada siapa pun yang bisa mendengarku, aku terlalu jauh dari pantai. Aku semakin panik. Bulan dan bintang-bintang semakin mendekat, lalu satu persatu mereka jatuh ke laut, menimbulkan guncangan yang luar biasa hebatnya. Angin berhembus kian kencang, air laut semakin berombak, perahu semakin oleng, dan hujan bintang semakin deras menimpa air di sekitarku. Aku melindungi tubuhku dengan kedua tanganku, kilatan-kilatan cahaya bintang menyilaukan mataku, membutakan pandanganku.


Ombak semakin besar, dan perahu tak lagi terkendali. Perahu terbalik dan jatuh ke laut. Aku berusaha menggapainya, berpegang pada punggung perahu yang terapung. Tapi bintang-bintang terus jatuh, dan laut mulai terbakar oleh apinya. Air mulai terasa panas, kegelapan semakin benderang oleh nyala api di permukaan air laut. Tak ada gunanya teriakanku, tak ada seorang pun. Bumi kiamat, bumi kiamat! Hanya itu yang ada di benakku. Kucoba mengucap nama Tuhanku, tapi aku tak bisa, aku lupa bagaimana cara mengucapkannya. Aku hanya panik seorang diri.


Bintang-bintang semakin berguguran. Laut berombak tinggi, membawa air berapi ke ketinggian ratusan meter. Perahuku sudah hampir hangus, tubuhku pun mulai terjilat api. Bulan semakin dekat, semakin dekat, semakin tampak besar, dan seketika bulan terjun ke laut, menghantam permukaan air dan menciptakan ombak yang sangat besar. Aku tak punya kesempatan menghindar, dan aku hilang dalam arus air laut berapi, ke kedalaman tak bertepi.


Kukerjapkan mataku tak percaya, tubuhku tergolek di tepi pantai. Pakaianku tak lagi berupa, tubuhku penuh luka bakar dan memar. Aku mencoba mengerakkan tubuhku, uh!! Aku tak sanggup. Aku hanya tergolek tak berdaya. Hari masih sangat pagi, pantai masih sepi, nelayan belum kembali. Aku masih sendiri di sini menanti siapa pun yang akan menemukanku nanti. Tergeletak kaku terkotori pasir dan serakan sampah. Hari masih sangat pagi, dan matahari mulai bersinar di ufuk timur, menyiratkan cahaya hangatnya ke tubuhku. Langit mulai membiru di hiasi corehan merah kekuningan. Dan aku masih tergeletak seperti bangkai…

Tidak ada komentar: