17 Agu 2008

BEN


“Halo, Michael,” itu Ben, Benyamin tepatnya. Sahabatku, satu-satunya. Tidak ada anak lain yang mau mengajakku berbicara. Cuma Ben.

“Nama gue benyamin,” begitu dulu dia memperkenalkan dirinya padaku.

“Kata Babeh gue, ini namanya pahlawan. Babeh pengen gue jadi pahlawan kayak yang punya nama,” dia cuma tersenyum getir. Entah kenapa. Mungkin dia merasa ayahnya memangkukan beban yang terlalu berat pada nama itu, dan harapannya.

“Capek gue, Mike. Tambah hari tambah sepi. Orang jaman sekarang sukanya pake sepatu kain, sepatu olah raga tuh. Apaan, kets? Ya itu deh pokoknya. Nah orang yang pake sepatu kulit udah ga pada nyemirin lagi. Heh, pusing deh gue!”

Begitu Ben. Seharian berkeliling menawarkan semir sepatunya, sorenya ia pun melepas penat di dekatku. Bercerita, berceloteh, bercanda, apa saja. Sambil dengan cekatan menyemir sepatuku. Hanya sepatuku. Tidak sepatu ibuku dan tidak juga sepatu ayahku. Meski pun mereka berdua selalu berdiri di sampingku. Tapi hanya sepatuku yang digosoknya, dengan kain yang lusuh dan hitam. Semir berbagai warna - hitam, coklat, putih - yang lengket di kain itu, meluncur licin pada sepatuku. Hasilnya, sepatuku berkilat terang. Berbeda dengan sepatu ayah dan ibuku yang kusam. Aku juga tidak tahu mengapa Ben hanya menggosok sepatuku, tidak sepatu ibuku dan tidak juga sepatu ayahku. Padahal aku pun tidak pernah memintanya.

“Eh, itu Mister Michael,” Ben mengedipkan sebelah matanya padaku dan berlalu. Tersenyum riang dia mendekati Mister Michael yang asli. Dia adalah seorang ekspatriat dari Amerika yang sudah berpuluh tahun hidup di Indonesia. Dia sudah seperti orang Indonesia asli, bahkan mungkin lebih Indonesia daripada orang Indonesia sendiri.

“Halo Mister Michael. Semir ga nih?” tanya Ben padanya. Dan Mister Michael menyerahkan sepasang sepatunya pada Ben, setelah menerima sandal jepit sebagai pengganti sementara. Mister michael menjadi satu-satunya pelanggan setia Ben. Hampir setiap hari ia menyerahkan sepatunya pada Ben, meski pun seringkali sepatunya sudah cukup licin untuk disemir lagi. Dan sejak saat itu ben memanggilku Michael, seperti nama pelanggan setianya itu.

Ben memang baru 10 tahun, seumur denganku. Tapi dia sudah harus bekerja sejak 3 tahun yang lalu, yang ketika itu bahkan membaca pun dia masih belum terlalu lancar. Dia memang bukan anak yang terlalu pintar, bahkan agak terbelakang di kelasnya. Dan bibirnya yang sumbing menjadi sumber paling ampuh bagi anak-anak lain untuk mengucilkannya. Dia sudah kenyang dengan pengalaman diasingkan, dicemooh, ditertawakan karena suaranya yang terdengar agak sengau. Bisa dibilang mungkin dia salah satu anak paling sial di kota ini. Setelah mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan di sekolahnya, prestasinya yang seperti batu hitam besar tenggelam di dasar sungai, dan hari terakhirnya dia menangis sesenggukan di teras sekolah, sambil memeluk tas kumal berisi satu buku tulis tipis, karena dia tahu esok tak bisa kembali ke sekolah itu lagi.

Ayahnya tak pernah memaksa Ben untuk bekerja seperti ini, apalagi ibunya. Ayahnya merasa sudah cukup dengan penghasilannya sebagai kernet bis kota, dan tugas Ben adalah membantu ibu di rumah. Tapi Ben tidak mau. Dia ingin melakukan sesuatu, lebih dari menyapu lantai dan menimba air untuk mandi. Tapi pekerjaan sederhana yang menghasilkan uang untuk ibunya.

Dan dia pun berakhir di jalanan. Sebagai penyemir sepatu. Dengan penghasilan hanya beberapa ribu per hari. Dia pun harus melatih kemampuan berlarinya dan pengenalan pada gang-gang kelinci di sekitar sini. Karena terkadang kemampuan itu akan diuji, ketika TRANTIB mengejar siapa saja anak jalanan dan gelandangan yang terlihat.

Dan itu dia di sana, anak yang penuh kesialan itu. Dia sedang asyik bercengkrama dengan seorang pria Amerika sembari menyikat sepatunya. Ben pernah menyebut Mister Michael adalah manusia favoritnya. Orang paling ramah dan baik hati yang pernah dia temui. “Herannya kok Mister Michael kagak kawin ya? Kalo babeh gue mati, gue mau mak gue kawin sama dia. Dia jadi babeh gue, Babeh Michael,” begitu celotehnya suatu ketika.

Tapi kali ini perasaanku tidak enak, ketika sebuah ekskafator berdenging dan mendekatiku. Seorang petugas mengarahkan supirnya untuk semakin mendekat, hingga kabel derek di belakang ekskafator itu bisa mencapai aku dan ayah ibuku. Gusarku semakin dalam, ketika kabel itu dililitkan di sekeliling tubuh kami. Ben!. Ben! Aku ingin berteriak memanggilnya, meminta bantuannya. Tapi aku tidak bisa. Tidak ada suara yang keluar dari mulutku. Ben! Aku hanya berharap dia menghentikan candanya dengan Mister Michael dan menoleh sejenak. Oh Tuhan, tolong panggilkan Ben, pintaku dalam hati.

“Lho lho, pak! Michael mo dibawa ke mana?” ah, syukurlah Ben melihat. Dan dia berlari dengan kegusaran yang sama dengan yang kurasakan.

“Pak, jangan dipindahin Michael,” Ben memohon pada petugas itu.

“Michael apaan? sok tahu lu anak kecil. Ni patung mo dipindah ke taman Suropati. Sayang disimpan di sini. Dekat terminal, dekat stasiun, jorok. Mending ditaruh di taman, biar cakepnya keliatan ni patung,” begitu kata sang petugas.

“Pak, jangan pak, di sini aja pak,” Ben menghiba, suara sengaunya semakin menjadi ketika matanya mulai berkaca-kaca. Aku tahu, hanya aku temannya, dan hanya dia temanku. Dan kami pasti akan merasa sangat kehilangan bila dipisahkan. Tapi Ben hanya bisa memohon, dan bibirnya mulai bergetar. Sementara aku tak punya daya untuk menolak, apalagi memberontak, ketika kabel derek itu diputar dan tubuhku terangkat semakin tinggi dan berdebam di atas truk. Perlahan wajah sedih itu menjadi mengabur dan jauh. Tapi suara tersedu sayup masih bisa kudengar, “Michael... jangan dibawa pergi...”



*inspired by Michael Jackson's song

Tidak ada komentar: