
“Susi mati!”
“Susi mati?”
“Susi mati pak RT.”
Berita kematian sebenarnya bukanlah berita yang asing, karena hampir setiap hari di desa itu berita kematian berkumandang mengabarkan kehilangan yang dialami seorang istri, atau anak, atau bahkan sebuah keluarga. Namun berita kematian kali ini berbeda. “Susi mati.” Seorang anak usia 10 tahun, mungkin terlalu muda untuk ditebak ajalnya. Dan kematiannya dirasakannya seorang diri, tanpa ayah, tanpa ibu, bahkan saudara-saudaranya.
Dia tinggal sebatang kara di sebuah rumah mungil yang dindingnya berwarna coklat lumpur. Warna coklat itu bukan karena selera pemiliknya, tapi karena setiap tahun rumah-rumah di desa ini terendam banjir yang membawa lumpur ke dalam rumah-rumah mereka. Tumpukan pakaian di sudut kasur membuat rumah ini semakin apek. Rasanya pasti berat untuk anak seusia Susi membersihkan dan membereskan seluruh bagian rumah ini seorang diri.
Dan di sanalah jenazah mungil itu tergeletak. Di lantai salah satu ruangnya yang kusam. Darah yang tumpah dari kepalanya tergenang di dekat guling yang ia peluk erat di dadanya. Rambutnya yang ikal sebahu kini menggumpal lengket oleh cairan merah itu. Ia hanya memakai celana selutut dan kaus dalam, pasti malam sebelumnya dia merasa sangat kedinginan tidur dengan pakaian seadanya.
“Di sana pak RT,” tunjuk seorang warga ke dalam rumah. Orang yang dipanggil pak RT mendekati jenazah mungil itu. Wajahnya tirus, kulitnya pucat kuning tanda kurang gizi. Namun wajah beku itu terlihat seperti menyimpan kedamaian yang tidak dimengerti oleh mereka, seakan dia baru saja mendarat kembali dari pengalaman terbang bersama peri. Di sisinya seorang pria tua bersimpuh, matanya sembab sisa menangis.
“Kapan, mbah Kompas?” tanya pak RT. Orang tua yang dipanggil mbah Kompas itu menggeleng.
“Yang nemu njenengan?” kali ini mbah Kompas mengangguk.
“Kapan? Ayo mbah, njenengan harus cerita sama saya!”
“Tadi saya mau nganter sarapan buat susi,” ia mengendikkan kepalanya ke arah meja. Di atasnya tergeletak sebuah mangkuk yang masih mengepulkan asap hangat dan menguarkan bau indomie. “Saya nemu sudah kayak gini,” kali ini ia kembali terisak. Pak RT menepuk bahunya dengan perlahan.
Mbah Kompas adalah orang terdekat Susi. Ia adalah pedagang koran, ia mendirikan sebuah kios kecil tepat di sisi rumah Susi. Itulah yang membuat dua manusia berjarak usia itu menjadi begitu dekat. Meski pun dia bukan keluarganya, tapi Mbah Kompas merawatnya seperti cucu sendiri. Setelah kematian ibunya beberapa bulan lalu karena serangan TBC, Susi sebatang kara. Ayahnya sudah pergi meninggalkan mereka sejak Susi masih terlalu kecil untuk mengingat wajah Ayahnya. Setiap waktunya makan, Mbah Kompas selalu mengantarkan makanan ala kadarnya untuk Susi, karena ia sendiri tidaklah berkecukupan.
Sebenarnya tidak ada seorang pun yang tahu nama asli Mbah Kompas. Ia dipanggil demikian hanya karena ia pengecer koran, dan panggilan itu tentu saja diambil dari salah satu nama koran yang ia dagangkan. Dia pernah mengaku berasal dari Boyolali, tapi tetap saja tidak ada seorang pun tahu apakah itu benar atau tidak. Namun beberapa orang menduga ia sebenarnya berasal dari daerah timur. Tampak dari kulitnya yang lebih hitam dari warna kulit penduduk asli desa itu, dan rambutnya yang lebat keriting.
“Sudah panggil polisi?” tanya pak RT kali ini pada seorang pria yang berdiri di belakangnya.
“Belum, pak.”
“Cepat telpon!”
Dan pria itu pun segera keluar. Sesaat kemudian terdengar gumaman di antara mereka untuk segera menelepon, pakai telepon si ini, pakai telepon di situ, siapa yang harus berbicara pada polisi, dan apa yang harus dikatakan.
Pak RT mengajak mbah Kompas dan semua orang di ruangan itu keluar, setelah mereka menutup jenazah Susi dengan selimutnya yang tipis.
“Nggak dipindah ke kasur, Pak?” tanya seorang warga.
“Jangan. Biar Polisi lihat dulu.”
Setengah jam kemudian Polisi datang bersama mobil jenazah. Beberapa petugas forensik turun dan memeriksa jenazah Susi. Tidak ada seorang pun yang boleh mendekat. Namun beberapa orang tetap berusaha melongokkan kepala mereka ke dalam pintu, atau mengintip melalui jendela. Sementara polisi menanyai beberapa orang, termasuk mbah Kompas.
“Sepertinya kecelakaan,” ujar seorang petugas forensik pada Polisi. “Mungkin dia terpeleset dan kepalanya terbentur meja. Tapi untuk memastikan dia bisa kami bawa.”
“Jangan!” sergah mbah Kompas. “Jangan dibawa. Biar kami saja yang merawat, biar kami kuburkan baik-baik. Jangan diotopsi!”
Polisi mendebatnya, menguraikan panjang lebar tentang kemungkinan pembunuhan dan pemecahan kasus. Namun mbah Kompas tetap menggelengkan kepala sambil menunduk dalam. Air matanya kembali tumpah.
“Kalau misalnya kasus ini dianggap selesai saja gimana pak polisi?” tanya pak RT.
“Sebenarnya yang berhak memutuskan apakah kasus ini akan dibawa untuk diselidiki atau tidak adalah keluarganya. Kalau keluarga mengikhlaskan ya kami tidak bisa berbuat apa-apa. Tapi anak ini tidak punya keluarga kan?”
“Anggaplah kami ini keluarganya, terutama Mbah Kompas. Mbah kompas yang paling dekat dengan susi. Kalau mbah kompas tidak rela susi di... otopsi, bisa dibatalkan kan pak polisi?”
“Ya sudah kalau itu maunya. Tapi kami hanya minta data-data orang-orang yang terkait dengan kasus ini.”
Pak RT mengangguk mengerti.
“Mulai dari mbah ini,” ujar polisi sambil mengeluarkan kertas catatannya. “Namanya siapa, mbah?”
“Mbah Kompas,” ujarnya lirih.
“Maksud saya nama asli, jangan nama panggilan atau nama palsu. Siapa nama aslinya?”
“Michael,” ujarnya tetap lirih.
“Siapa?”
“Michael,” kali ini lebih keras. Polisi itu memandang mbah Kompas dengan pandangan sangsi.
“Nama asli saya memang Michael,” ujar mbah Kompas lagi dengan pandangan mantap menatap polisi itu. Polisi itu tak berkata apa-apa, ia hanya menorehkan penanya di atas kertas.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar